Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2013

ENSEFALITIS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai system saraf pusat (SSP) yang disebabkan oleh virus atau mikroorganisme lain yang nonpurulen. Pentebab tersering dari ensefalitis adalah virus kemudian herpes simpleks, arbovirus, dan jarang disebabkan oleh enterovarius, mumps, dan adenovirus. Ensefalitis bias juga terjadi pascainfeksi campak, influenza, varicella, dan pascavaksinasi pertusis.
Klasifikasi ensefalitis didasarkan pada factor penyebabnya. Ensefalitis suparatif akut dengan bakteri penyebab ensefalitis adalah Staphylococcus aureus, Streptococus, E.Colli, Mycobacterium, dan T.Pallidium. Sedangkan ensefalitis virus penyebab adalah virus RNA (Virus Parotitis), virusmorbili, virus rabies, virus Rubela, virus dengue, virus polio, cockscakie A dan B, herpes zoster, herpes simpleks, dan varicella.
1.2 Rumusan masalah
a. Bagimana laporan pendahuluan pada pasien dengan encefalitis
b. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan encefalitis

1.3 Tujuan Umum Pembuatan Makalah
1.3.1 Tujuan Umum :
a. Membantu mahasiswa agar mampu memahami encefalitis, baik secara perorangan maupun berkelompok.
1.3.2 Tujuan Khusus :
a. Membantu mahasiswa agar mampu memahami laporan pendahuluan mengenai ensefalitis
b. Membantu mahasiswa agar mampu memahami asuhan keperawatan ensefalitis
c. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang ensefalitis
d. Akademik, memperkaya khasanah keilmuan kesehatan umumnya, dan bidang kesehatan persarafan khususnya.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme (Hassan, 1997). Pada encephalitis terjadi peradangan jaringan otak yang dapat mengenai selaput pembungkus otak dan medula spinalis.
Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent.
Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai system saraf pusat (SSP) yang disebabkan oleh virus atau mikroorganisme lain yang nonpurulen. Penyebab tersering dari ensefalitis adalah virus kemudian herpes simpleks, arbovirus, dan jarang disebabkan oleh enterovarius, mumps, dan adenovirus. Ensefalitis bias juga terjadi pascainfeksi campak, influenza, varicella, dan pascavaksinasi pertusis.
Klasifikasi ensefalitis didasarkan pada factor penyebabnya. Ensefalitis suparatif akut dengan bakteri penyebab ensefalitis adalah Staphylococcus aureus, Streptococus, E.Colli, Mycobacterium, dan T.Pallidium. Sedangkan ensefalitis virus penyebab adalah virus RNA (Virus Parotitis), virusmorbili, virus rabies, virus Rubela, virus dengue, virus polio, cockscakie A dan B, herpes zoster, herpes simpleks, dan varicella.

2.2 Etiologi
a. Virus
b. Bakteri
c. Jamur
Berbagai macam mikroorganisme dapat menimbulkan Ensefalitis, misalnya bakteria, protozoa, cacing, jamur, spirochaeta, dan virus. Bakteri penyebab Ensefalitis adalah Staphylococcus aureus, streptokok, E. Coli, M. Tuberculosa dan T. Pallidum. Encephalitis bakterial akut sering disebut encephalitis supuratif akut (Mansjoer, 2000). Penyebab lain adalah keracunan arsenik dan reaksi toksin dari thypoid fever, campak dan chicken pox/cacar air. Penyebab encephalitis yang terpenting dan tersering ialah virus. Infeksi dapat terjadi karena virus langsung menyerang otak, atau reaksi radang akut infeksi sistemik atau vaksinasi terdahulu.
Klasifikasi encephalitis berdasar jenis virus serta epidemiologinya ialah:
• Infeksi virus yang bersifat endemik
1. Golongan enterovirus : Poliomyelitis, virus Coxsackie, virus ECHO.
2. Golongan virus Arbo : Western equine encephalitis, St. Louis encephalitis, Eastern equine encephalitis, Japanese B encephalitis, Russian spring summer encephalitis, Murray valley encephalitis.
Infeksi virus yang bersiat sporadik : rabies, Herpes simpleks, Herpes zoster, Limfogranuloma, Mumps, Lymphocytic choriomeningitis, dan jenis lain yang dianggap disebabkan oleh virus tetapi belum jelas.
Encephalitis pasca-infeksi : pasca-morbili, pasca-varisela, pasca-rubela, pasca-vaksinia, pasca-mononukleosis infeksius, dan jenis-jenis lain yang mengikuti infeksi traktus respiratorius yang tidak spesifik.(Robin cit. Hassan, 1997)
2.3 Tanda dan Gejala
1. Suhu yang mendadak naik, seringkali ditemukan hiperpireksia
2. Kesadaran dengan cepat menurun
3. Muntah
4. Kejang-kejang, yang dapat bersifat umum, fokal atau twitching saja (kejang-kejang di muka)
5. Gejala-gejala serebrum lain, yang dapat timbul sendiri-sendiri atau bersama-sama, misal paresis atau paralisis, afasia, dan sebagainya (Hassan, 1997
6. Perubahan perilaku
7. Gelisah
Inti dari sindrom Ensefalitis adalah adanya demam akut, dengan kombinasi tanda dan gejala : kejang, delirium, bingung, stupor atau koma, aphasia, hemiparesis dengan asimetri refleks tendon dan tanda Babinski, gerakan involunter, ataxia, nystagmus, kelemahan otot-otot wajah.

2.4 Patofisiologi
Virus masuk tubuh klien melalui kulit, saluran npas, dan saluran cerna. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara :
• Lokal : virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lender permukaan atau organ tertentu.
• Penyebaran hematogen primer : virus masuk ke dalam darah, kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.
• Penyebaran melalui saraf-saraf : virus berkembang biak di perukaan selaput lender dan menyebar melalui system persarafan.
Setelah terjadi penyebaran ke otak terjadi manifestasi klinis ensefalitis. Masa prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah nyeri tenggorokan, malais, nyeri ekstremitas, dan pucat. Suhu badan meningkat, fotofobia, sakit kepala, muntah-muntah, letargi, kadang disertai kakukuduk apabila infeksi mengenai meningen. Pada anak, tampak gelisah kadang disertai perubahan tingkah laku. Dapat disertai gangguan penglihatan, pendengaran, bicara, serta kejang. Gejala lain berupa gelisah, rewel, perubahan perilaku, gangguan kesaadaran, kejang. Kadang-kadang disertai tanda neurologis fokal berupa afassia, hemiparesis, hemiplagia, ataksia, dan paralisis saraf otak.

2.5 Manifestasi Klinis
Masa prodromal berlangsung antara 1-4 hari, ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremitas, dan pucat. Kemudian di ikuti tanda ensefalitis yang berat ringannya tergantung dari ditribusi dan luas lesi pada neuron. Gejala tersebut berupa :
1. Gelisah
2. Iritabel
3. Streming attack
4. Perubahan perilaku
5. Gangguan kesadaran
6. Kejang
Kadang disertai tanda neurologis fokal berupa :
1) Afasia
2) Hemiparesia
3) Hemiplagia
4) Ataksia
5) Paralisis saraf otak
Tanda rangsangan meningela dapat terjadi bila peradangan mencapai meningen. Ruam kulitkadang di dapatkan pada beberapa tipe ensefalitis misalnyapada enterovirus dan varisela zoster

2.6 Komplikasi
Komplikasi pada ensefalitis berupa :
1. Retardasi mental
2. Iritabel
3. Gangguan motorik
4. Epilepsi
5. Emosi tidak stabil
6. Sulit tidur
7. Halusinasi
8. Enuresis
9. Anak menjadi perusak dan melakukan tindakan asosial lain.

2.7 Pemeriksaan Penunjang
A. Lumbal pungsi (pemeriksaan CSS)
1) Cairan warna jernih d. Glukosa normal
2) Leukosit meningkat e. Tekanan Intra Kranial meningkat
2. Protein agak meningkat
3. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urin
1) Sukar oleh karena uremia berlangsung singkat
2) Dapat membantu mengidentifikasikan daerah pusat infeksi dan penyebab infeksi
4. CT Scan/ MRI
1) Membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran/ letak ventrikel, hematom, daerah cerebral, hemoragic, atau tumor
5. EEG
1) Terlihat aktivitas listrik (gelombang) yang menurun, sosial dengan tingkat kesadaran yang menurun
2) Gambaran EEG memperlihatkan proses inflamasi difu (aktivitas lambat bilateral)

2.8 Penatalaksanaan
1. Isolasi Isolasi bertujuan mengurangi stimuli/rangsangan dari luar dan sebagai tindakan pencegahan.
2. Terapi antimikroba, sesuai hasil kultur Obat yang mungkin dianjurkan oleh dokter :
• Ampicillin : 200 mg/kgBB/24 jam, dibagi 4 dosis
• Kemicetin : 100 mg/kgBB/24 jam, dibagi 4 dosis
• Bila encephalitis disebabkan oleh virus (HSV), agen antiviral acyclovir secara signifikan dapat menurunkan mortalitas dan morbiditas HSV encephalitis. Acyclovir diberikan secara intravena dengan dosis 30 mg/kgBB per hari dan dilanjutkan selama 10-14 hari untuk mencegah kekambuhan (Victor, 2001).
• Untuk kemungkinan infeksi sekunder diberikan antibiotika secara polifragmasi.
3. Mengurangi meningkatnya tekanan intracranial, manajemen edema otak
• Mempertahankan hidrasi, monitor balans cairan; jenis dan jumlah cairan yang diberikan tergantung keadaan anak.
• Glukosa 20%, 10 ml intravena beberapa kali sehari disuntikkan dalam pipa giving set untuk menghilangkan edema otak.
• Kortikosteroid intramuscular atau intravena dapat juga digunakan untuk menghilangkan edema otak.
4. Mengontrol kejang Obat antikonvulsif diberikan segera untuk memberantas kejang. Obat yang diberikan ialah valium dan atau luminal.
• Valium dapat diberikan dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/kali
• Bila 15 menit belum teratasi/kejang lagi bia diulang dengan dosis yang sama
• Jika sudah diberikan 2 kali dan 15 menit lagi masih kejang, berikan valium drip dengan dosis 5 mg/kgBB/24 jam.
5. Mempertahankan ventilasi Bebaskan jalan nafas, berikan O2 sesuai kebutuhan (2-3l/menit).
6. Penatalaksanaan shock septik
7. Mengontrol perubahan suhu lingkungan
8. Untuk mengatasi hiperpireksia, diberikan kompres pada permukaan tubuh yang mempunyai pembuluh besar, misalnya pada kiri dan kanan leher, ketiak, selangkangan, daerah proksimal betis dan di atas kepala. Sebagai hibernasi dapat diberikan largaktil 2 mg/kgBB/hari dan phenergan 4 mg/kgBB/hari secara intravena atau intramuscular dibagi dalam 3 kali pemberian. Dapat juga diberikan antipiretikum seperti asetosal atau parasetamol bila keadaan telah memungkinkan pemberian obat per oral.(Hassan, 1997)

2.9 Pathway

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
1. Biodata
Umur : Penyakit ensefalitis dapat menyerang semua usia, insiden tertinggi terjadi pada anak-anak
Jenis kelamin : Penyakit ensefalitis bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan
Bangsa : Umumnya untuk penyakit ensefalitis tidak mengenal suku bangsa, ras

2. Keluhan utama
a. Demam
b. Kejang
3. Riwayat kesehatan sekarang
Demam, kejang, sakit kepala, pusing, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremitas, pucat, gelisah, perubahan perilaku, dan gangguan kesadaran.
4. Riwayat kesehatan dahulu
Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita penyakit Herpes, penyakit infeksi pada hidung,telinga dan tenggorokan.
5. Riwayat penyakit keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contoh : Herpes dll. Bakteri contoh : Staphylococcus Aureus,Streptococcus , E , Coli ,dll.

3.2 Pola-Pola Fungsi Kesehatan
1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
a. Kebiasaan
Sumber air yang dipergunakan dari PAM atau sumur ,kebiasaan buang air besar di WC,lingkungan penduduk yang berdesaan (daerah kumuh)
b. Status Ekonomi
Biasanya menyerang klien dengan status ekonomi rendah.

2. Pola fungsi kesehatan
a. Pola nutrisi dan metabolisme
Nafsu makan menurun (anoreksia) nyeri tenggorokan dan Berat badan menurun
b. Pola aktivitas
Nyeri ekstremitas dan keterbatasan rentang gerak akan mempengaruhi pola aktivitas
c. Pola istirahat dan tidur
Kualitas dan kuantitas akan berkurang oleh karena demam, sakit kepala dll, yang sehubungan dengan penyakit ensefalitis
d. Pola eliminasi
Kebiasaan Defekasi sehari-hari
Biasanya pada klien Ensefalitis karena klien tidak dapat melakukan mobilisasi maka dapat terjadi obstivasi.
Kebiasaan BAK sehari-hari
Biasanya pada klien Ensefalitis kebiasaan miksi normal frekuensi normal. Jika kebutuhan cairan terpenuhi. Jika terjadi gangguan kebutuhan cairan maka produksi irine akan menurun ,konsentrasi urine pekat
e. Pola hubungan dan peran
Efek penyakit yang diderita terhadap peran yang diembannya sehubungan dengan ensefalitis, bisanya Interaksi dengan keluarga / orang lain biasanya pada klien dengan Ensefalitis kurang, karena kesadaran klien menurun mulai dari apatis sampai koma.
f. Pola penanggulangan stress
Akan cenderung mengeluh dengan keadaaan dirinya (stress)

3.3 Pemeriksaan fisik
Setelah melakukan anmnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien, pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan persistem (B1-B6) dengan focus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 (Brain) yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan-keluhan dari klien.
Pemeriksaan fisik dumulai dengan memeriksa tanda-tanda vital (TTV) pada klien ensefalitis biasanya didapatkan peningkatn suhu tubuh lebih dari normal 39-49°C. Keadaan ini biasanya dihubungkan dengan proses inflamasi dari selaput otak yang sudah menggangu pusat pengatur suhu tubuh. Penurunan denyut nadi terjadi berhubungan dengan tanda-tanda peningkatan TIK. Apabila disertai peningkatan frekuensi pernapasan sering berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme umum dan adanya infeksi pada system pernapasan sebelum mengalami ensefalitis. TD biasanya normal atau meningkat berhubungan dengan tanda-tanda peningkata TIK.
• B1 (Breathing)
Inspeksi apakah klien batuk, produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu napas, dan peningkatan frekuensi pernapasan yang sering didapatkan pada klien ensefalitis yang sering disertai adanya gangguan pada system pernapasan. Palpasi biasanya taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi bunyi napas tambahan sperti ronkhi pada klien ddengan ensefalitis berhubungan akuulasi sekreet dari penurunan kesadaran.
• B2 (Blood)
Pengkajian pada system kardiovaskular didapatkan renjatan (syok) hipovolemik yang sering terjadi pada klien ensefalitis.
• B3 (Brain)
Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan focus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada system lainnya.
• Tingkat Kesadaran
Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien ensefalitis biasanya berkisar pada tingkat letargi, stupor, dan semikomatosa. Apabila klien sudah mengalami koma maka penilaia GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien dan bahan evaluasi untuk memaantau pemberian asuhan keperawatan.
• Fungsi Serebri
Status mental : observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya bicara klien dan observasi ekspresi wajah dan aktivitas motorik. Pada klien ensefalitis tahap lanjut biasanya status mental klien mengalami perubahan.
Pemeriksaan Saraf Kranial
• Saraf I. Fungsi penciuman biasanya tidak ada klainan pada klien ensefalitis
• Saraf II. Tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal. Pemeriksaan papiledema mungkin didapatkan terutma pada ensefalitis supuratif disertai abses serebri dan efusi subdural yang menyebabkan terjadinya peningkatan TIK.
• Saraf III, IV, dan VI. Pemeriksaan fungsi dan reaksi pupil pada klien ensefalitis yang tidak disertai penurunan kesadaran biasanya tanpa kelainan. Pada tahap lanjut ensefalitis yang telah mengganggu kesadaran, tanda-tanda perubahan dari fungsi dan reaksi pupil akan didapatkan. Dengan alas an yang tidak diketahui, klien ensefalitis mengeluh mengalami fotofobia atau sensitive yang berlebihan terhadap cahaya.
• Saraf V. Pada klien ensefalitis didapatkan paralisis pada otot sehingga mengganggu proses mengunyah.
• Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetris karena adanya paralisis unilateral.
• Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli kondungtif dan tuli persepsi
• Saraf IX dan X. Kemampuan menelan kurang baik sehingga mengganggu pemenuhan nutrisi via oral.
• Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Adanya usaha dari klien untuk melakukan fleksi leher dan kaku kuduk.
• Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indra pengecap normal.
• Sistem Motorik
Kekuatan otot menurun, kntrol keseimbangan dan koordinasi pada ensefalitis tahap lanjut mengalami perubahan.

Pemeriksaan Refleks
Pemeriksaan reflex dala, pengetukan pada tendon, ligamentum atau periosteum derajat reflex pada respons normal. Reflex patologis akan didapatkan pada klien ensefalitis dengan tingkat kesadaran koma.
Gerakan Involunter
Tidak ditemukan adanya teremor, Tic, dan distonia. Pada keaddaan tertentu klien biasanya mengalami kejang umum, terutama pada anak ddengan ensefalitis disertai peningkatan suhu tubuh yang tinggi. Kejang dan peningkatan TIK juga berhubungan dengan ensefalitis. Kejang terjadi sekunder akibat area fokal kortikal yang peka.
Sistem Sensorik
Pemeriksaan sonsorik pada ensefalitis biasanya didapatkan perasaan raba normal, perasaan nyeri normal, perasaan suhu normal, tidak ada perasaan abnormal di eprmukaan tubuh, perasaan diskriminatif normal.
Peradangan pada selaput otak mengakibatkan sejumlah tanda yang mudah dikenali pada ensefalitis. Tanda tersebut adalah kaku kuduk, yaitu ketika adanya upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher.
• B4 (Bladder)
Pemeriksaan pada sistemperkemihan biasanya didapatkan berkurangnya volume keluaran urine, hal ini berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan curah jantung ke ginjal.
• B5 (Bowel)
Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung. Pemenuhan nutrisi pada klien meningitis menurun karena anoreksia dan adanya kejang.
• B6 (Bone)
Penurunan kekuatan otot dan penurunan tingkat kesadaran menurunkan mobilitas klien secara umum. Dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien lebih banyak dibantu orang lain.

3.4 Diagnosa Keperawatan Yang Sering Terjadi
1. Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan terhadap infeksi turun.
2. Resiko tinggi perubahan peR/usi jaringan b/d Hepofalemia, anemia.
3. Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umu.
4. Nyeri b/d adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis, gelisah.
5. Gangguan mobilitas b/d penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM terbatas.
6. Gangguan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah.
7. Gangguan sensorik motorik (penglihatan, pendengaran, gaya bicara) b/d kerusakan susunan saraf pusat.
8. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan sakit kepala mual.
9. Resiko gangguan integritas kulit b/d daya pertahanan tubuh terhadap infeksi turun.
10. Resiko terjadi kontraktur b/d spastik berulang.

3.5 Implementasi
• Diagnosa Keperawatan I.
• Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan tubuh terhadap infeksi turun
Tujuan:
– tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil:
– Masa penyembuhan tepat waktu tanpa bukti penyebaran infeksi endogen
Intervensi
1. Pertahanan teknik aseptic dan teknik cuci tangan yang tepat baik petugas atau pengunmjung. Pantau dan batasi pengunjung.
R/. menurunkan resiko px terkena infeksi sekunder . mengontrol penyebaran Sumber infeksi, mencegah pemajaran pada individu yang mengalami nfeksi saluran nafas atas.
2. Abs. suhu secara teratur dan tanda-tanda klinis dari infeksi.
R/. Deteksi dini tanda-tanda infeksi merupakan indikasi perkembangan Meningkosamia .
3. Berikan antibiotika sesuai indikasi
R/. Obat yang dipilih tergantung tipe infeksi dan sensitivitas individu.
• DIAGNOSA KEPERAWATAN II
Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umum
Tujuan :
– Tidak terjadi trauma
Kriteria hasil :
– Tidak mengalami kejang / penyerta cedera lain
Intervensi :
1. Berikan pengamanan pada pasien dengan memberi bantalan,penghalang tempat tidur tetapn terpasang dan berikan pengganjal pada mulut, jalan nafas tetap bebas.
R/. Melindungi px jika terjadi kejang , pengganjal mulut agak lidah tidak tergigit.
Catatan: memasukkan pengganjal mulut hanya saat mulut relaksasi.
2. Pertahankan tirah baring dalam fase akut.
R/. Menurunkan resiko terjatuh / trauma saat terjadi vertigo.
3. Kolaborasi.
Berikan obat sesuai indikasi seperti delantin, valum dsb.
R/. Merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang.
4. Abservasi tanda-tanda vital
R/. Deteksi diri terjadi kejang agak dapat dilakukan tindakan lanjutan.
• DIAGNOSA KEPERAWATAN III
Resiko terjadi kontraktur b/d kejang spastik berulang
Tujuan :
– Tidak terjadi kontraktur
Ktiteria hasil :
– Tidak terjadi kekakuan sendi
– Dapat menggerakkan anggota tubuh
Intervensi
1. Berikan penjelasan pada ibu klien tentang penyebab terjadinya spastik , terjadi kekacauan sendi.
R/ . Dengan diberi penjelasan diharapkan keluarga mengerti dan mau membantu program perawatan .
2. Lakukan latihan pasif mulai ujung ruas jari secara bertahap
R/ Melatih melemaskan otot-otot, mencegah kontraktor.
3. Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam
R/ Dengan melakukan perubahan posisi diharapkan peR/usi ke jaringan lancar, meningkatkan daya pertahanan tubuh .
4. Observasi gejala kaerdinal setiap 3 jam
R/ Dengan melakukan observasi dapat melakukan deteksi dini bila ada kelainan dapat dilakukan inteR/ensi segera
5. Kolaborasi untuk pemberian pengobatan spastik dilantin / valium sesuai Indikasi
R/ Diberi dilantin / valium ,bila terjadi kejang spastik ulang

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin Arif.2008.Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.Jakarta: Salemba Medika.
Rahman M.1986.Petunjuk Tentang Penyakit, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba.Jakarta.
Tarwoto, dkk.2007.Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Persarafan.Jakarta: Sagung Seto.
http://www.nursingbegin.com
http://www.perawatpskiatri.blogspot.com
http://www.radit11.wordpress.com
http://mardino25.blogspot.com/2012/03/makalah-ensefalitis.html
ASKEP ANAK DENGAN ENCEPHALITIS

Pengertian
Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent.

Patogenesis Ensefalitis
Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara:
 Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu.
 Penyebaran hematogen primer:virus masuk ke dalam darah
Kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.
 Penyebaran melalui saraf-saraf : virus berkembang biak di
Permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.
Masa Prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremintas dan pucat .
Gejala lain berupa gelisah, iritabel, perubahan perilaku, gamgguan kesadaran, kejang.
Kadang-kadang disertai tanda Neurologis tokal berupa Afasia, Hemifaresis, Hemiplegia, Ataksia, Paralisis syaraf otak.

Penyebab Ensefalitis:
Penyebab terbanyak : adalah virus
Sering : – Herpes simplex
– Arbo virus
Jarang : – Entero virus
– Mumps
– Adeno virus
Post Infeksi : – Measles
– Influenza
– Varisella
Post Vaksinasi : – Pertusis
Ensefalitis supuratif akut :
Bakteri penyebab Esenfalitis adalah : Staphylococcusaureus, Streptokok, E.Coli, Mycobacterium dan T. Pallidum.

Ensefalitis virus:
Virus yang menimbulkan adalah virus R N A (Virus Parotitis) virus morbili,virus rabies,virus rubella,virus denque,virus polio,cockscakie A,B,Herpes Zoster,varisela,Herpes simpleks,variola.

Gejala-Gejala yang mungkin terjadi pada Ensefalitis :
– Panas badan meningkat ,photo fobi,sakit kepala ,muntah-muntah lethargy ,kadang disertai kaku kuduk apabila infeksi mengenai meningen.
– Anak tampak gelisah kadang disertai perubahan tingkah laku. Dapat disertai gangguan penglihatan ,pendengaran ,bicara dan kejang.

PENGKAJIAN
1. Identitas
Ensefalitis dapat terjadi pada semua kelompok umur.
2. Keluhan utama
Panas badan meningkat, kejang, kesadaran menurun.
3. Riwayat penyakit sekarang
Mula-mula anak rewel ,gelisah ,muntah-muntah ,panas badan meningkat kurang lebih 1-4 hari , sakit kepala.
4. Riwayat penyakit dahulu
Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita penyakit Herpes, penyakit infeksi pada hidung,telinga dan tenggorokan.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contoh : Herpes dll. Bakteri contoh : Staphylococcus Aureus,Streptococcus , E , Coli, dll.
6. Imunisasi
Kapan terakhir diberi imunisasi DTP
Karena ensefalitis dapat terjadi post imunisasi pertusis.
– Pertumbuhan dan Perkembangan

POLA-POLA FUNGSI KESEHATAN

Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Kebiasaan
sumber air yang dipergunakan dari PAM atau sumur ,kebiasaan buang air besar di WC,lingkungan penduduk yang berdesakan (daerah kumuh)
Status Ekonomi
Biasanya menyerang klien dengan status ekonomi rendah.

Pola Nutrisi dan Metabolisme
Menyepelekan anak yang sakit ,tanpa pengobatan yang semPemenuhan Nutrisi
Biasanya klien dengan gizi kurang asupan makana dan cairan dalam jumlah kurang dari kebutuhan tubuh.,
Pada pasien dengan Ensefalitis biasanya ditandai
Dengan adanya mual, muntah, kepalah pusing, kelelahan.
Status Gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh.
Postur tubuh biasanya kurus ,rambut merah karena kekurangan vitamin A, berat badan kurang dari normal.
Menurutrumus dari BEHARMAN tahun 1992, umur 1 sampai 6 tahun
Umur (dalam tahun) x 2 + 8
Tinggi badan menurut BEHARMAN umur 4 sampai 2 x tinggi badan lahir.
Perkembangan badan biasanya kurang karena asupan makanan yang bergizi kurang.
Pengetahuan tentang nutrisi biasanya pada orang tua anak yang kurang pengetahuan tentang nutrisi.
Yang dikatakan gizi kurang bila berat badan kurang dari 70% berat badan normal.

Pola Eliminasi
Kebiasaan Defekasi sehari-hari
Biasanya pada pasien Ensefalitis karena pasien tidak dapat melakukan mobilisasi maka dapat terjadi obstipasi.
Kebiasaan Miksi sehari-hari
Biasanya pada pasien Ensefalitis kebiasaan mictie normal frekuensi normal.
Jika kebutuhan cairan terpenuhi.
Jika terjadi gangguan kebutuhan cairan maka produksi irine akan menurun, konsentrasi urine pekat.

Pola tidur dan istirahat
Biasanya pola tidur dan istirahat pada pasien Ensefalitis biasanya tidak dapat dievaluasi karena pasien sering mengalami apatis sampai koma.

Pola Aktivitas
a. Aktivitas sehari-hari : klien biasanya terjadi gangguan karena bx Ensefalitis dengan gizi buruk mengalami kelemahan.
b. Kebutuhan gerak dan latihan : bila terjadi kelemahan maka latihan gerak dilakukan latihan positif.
Upaya pergerakan sendi : bila terjadi atropi otot pada px gizi buruk maka dilakukan latihan pasif sesuai ROM
Kekuatan otot berkurang karena px Ensefalitisdengan gizi buruk .
Kesulitan yang dihadapi bila terjadi komplikasi ke jantung ,ginjal ,mudah terkena infeksi ane
berat,aktifitas togosit turun ,Hb turun ,punurunan kadar albumin serum, gangguan pertumbuhan.

Pola Hubungan Dengan Peran
Interaksi dengan keluarga / orang lain biasanya pada klien dengan Ensefalitis kurang karena kesadaran klien menurun mulai dari apatis sampai koma.

Pola Persepsi dan pola diri
Pada klien Ensenfalitis umur > 4 ,pada persepsi dan konsep diri
Yang meliputi Body Image ,seef Esteem ,identitas deffusion deper somalisasi belum bisa menunjukkan perubahan.

Pola sensori dan kuanitif
a. Sensori
– Daya penciuman
– Daya rasa
– Daya raba
– Daya penglihatan
– Daya pendengaran.

b. Kognitif :

Pola Reproduksi Seksual
Bila anak laki-laki apakah testis sudah turun ,fimosis tidak ada.

Pola penanggulangan Stress
Pada pasien Ensefalitis karena terjadi gangguan kesadaran :
– Stress fisiologi à biasanya anak hanya dapat mengeluarkan air mata saja ,tidak bisa menangis dengan keras (rewel) karena terjadi afasia.
– Stress Psikologi tidak di evaluasi.

Pola Tata Nilai dan Kepercayaan
Anak umur 3-4 tahun belumbisa dikaji

PEMERIKSAAN LABORATORIUM / PEMERIKSAAN PENUNJANG

Gambaran cairan serebrospinal dapat dipertimbangkan meskipun tidak begitu membantu. Biasanya berwarna jernih ,jumlah sel 50-200 dengan dominasi limfasit. Kadar protein kadang-kadang meningkat, sedangkan glukosa masih dalam batas normal.

Gambaran EEG memperlihatkan proses inflamasi difus (aktifitas lambat bilateral).Bila terdapat tanda klinis flokal yang ditunjang dengan gambaran EEG atau CT scan dapat dilakukan biopal otak di daerah yang bersangkutan. Bila tidak ada tanda klinis flokal, biopsy dapat dilakukan pada daerah lobus temporalis yang biasanya menjadi predileksi virus Herpes Simplex.

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG SERING TERJADI
1. Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan terhadap infeksi turun.
2. Resiko tinggi perubahan peR/usi jaringan b/d Hepofalemia, anemia.
3. Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umu.
4. Nyeri b/d adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis, gelisah.
5. Gangguan mobilitas b/d penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM terbatas.
6. Gangguan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah.
7. Gangguan sensorik motorik (penglihatan, pendengaran, gaya bicara) b/d kerusakan susunan saraf pusat.
8. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan sakit kepala mual.
9. Resiko gangguan integritas kulit b/d daya pertahanan tubuh terhadap infeksi turun.
10. Resiko terjadi kontraktur b/d spastik berulang.

DIAGNOSA KEPERAWATAN I.

Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan tubuh terhadap infeksi turun
Tujuan:
– tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil:
– Masa penyembuhan tepat waktu tanpa bukti penyebaran infeksi endogen
Intervensi
1. Pertahanan teknik aseptic dan teknik cuci tangan yang tepat baik petugas atau pengunmjung. Pantau dan batasi pengunjung.
R/. menurunkan resiko px terkena infeksi sekunder . mengontrol penyebaran Sumber infeksi, mencegah pemajaran pada individu yang mengalami nfeksi saluran nafas atas.
2. Abs. suhu secara teratur dan tanda-tanda klinis dari infeksi.
R/. Deteksi dini tanda-tanda infeksi merupakan indikasi perkembangan Meningkosamia .
3. Berikan antibiotika sesuai indikasi
R/. Obat yang dipilih tergantung tipe infeksi dan sensitivitas individu.

DIAGNOSA KEPERAWATAN II

Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umum
Tujuan :
– Tidak terjadi trauma

Kriteria hasil :
– Tidak mengalami kejang / penyerta cedera lain

Intervensi :
1. Berikan pengamanan pada pasien dengan memberi bantalan,penghalang tempat tidur tetapn terpasang dan berikan pengganjal pada mulut, jalan nafas tetap bebas.
R/. Melindungi px jika terjadi kejang , pengganjal mulut agak lidah tidak tergigit.
Catatan: memasukkan pengganjal mulut hanya saat mulut relaksasi.
2. Pertahankan tirah baring dalam fase akut.
R/. Menurunkan resiko terjatuh / trauma saat terjadi vertigo.
3. Kolaborasi.
Berikan obat sesuai indikasi seperti delantin, valum dsb.
R/. Merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang.
4. Abservasi tanda-tanda vital
R/. Deteksi diri terjadi kejang agak dapat dilakukan tindakan lanjutan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN III

Resiko terjadi kontraktur b/d kejang spastik berulang

Tujuan :
– Tidak terjadi kontraktur
Ktiteria hasil :
– Tidak terjadi kekakuan sendi
– Dapat menggerakkan anggota tubuh

Intervensi

1. Berikan penjelasan pada ibu klien tentang penyebab terjadinya spastik , terjadi kekacauan sendi.
R/ . Dengan diberi penjelasan diharapkan keluarga mengerti dan mau membantu program perawatan .
2. Lakukan latihan pasif mulai ujung ruas jari secara bertahap
R/ Melatih melemaskan otot-otot, mencegah kontraktor.
3. Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam
R/ Dengan melakukan perubahan posisi diharapkan peR/usi ke jaringan lancar, meningkatkan daya pertahanan tubuh .
4. Observasi gejala kaerdinal setiap 3 jam
R/ Dengan melakukan observasi dapat melakukan deteksi dini bila ada kelainan dapat dilakukan inteR/ensi segera
5. Kolaborasi untuk pemberian pengobatan spastik dilantin / valium sesuai Indikasi
R/ Diberi dilantin / valium ,bila terjadi kejang spastik ulang

DAFTAR PUSTAKA

Laboratorium UPF Ilmu Kesehatan Anak, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya, 1998

Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1997.

Rahman M, Petunjuk Tentang Penyakit, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium, Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba, Jakarta, 1986.

Sacharian, Rosa M, Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta ,1993.

Sutjinigsih (1995), Tumbuh kembang Anak, Penerbit EGC, Jakarta

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang “ENSEFALITIS SUPURATIF AKUT “ ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas dari mata kulia keperawatan medikal bedah (KMB) di bidang ilmu keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Surya Global Yogyakarta.
Dalam penulisan makalah ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan, bimbingan dan nasehat dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga tidak berlebihan apabila penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada :Bapak Sugeng Djito, S.Kep. Ns sebagai pengasuh mata kulia keperwatan medikal bedah (KMB), dan teman- teman yang saya kasihi dalam penulisan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak demi kebaikan dan kesempurnaan makalah ini. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semua pihak serta bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya Keperawatan.

Yogyakarta, Maret 2011

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Ensefalitis adalah jaringan otak yang dapat disebabkan oleh bakteri,cacing, protozoa, jamur, ricketsia atau virus.Ensefalitis Arbovirus adalah infeksi otak yang berat yang disebabkan oleh salah satu dari beberapa jenis virus.Infeksi ensefalitis virus yang paling sering terjadi di Amerika dan ditularkan melalui gigitan serangga adalah : Ensefalitis Ekuin Barat, Ensefalitis Ekuin Timur, Ensefalitis Santa Louis, Ensefalitis Kalifornia.
Ensefalitis Ekuin Barat terjadi di seluruh Amerika dan menyerang semua umur, tetapi terutama menyerang anak usia dibawah 1 tahun.Ensefalitis Ekuin Timur terjadi terutama di Amerika bagian timur, terutama menyerang anak-anak yang sangat muda dan diatas usia 55 tahun, dan lebih fatal.Kedua jenis ensefalitis tersebut, cenderung lebih berat pada anak dibawah 1 tahun, menyebabkan kerusakan saraf atau otak yang menetap.
Wabah ensefalitis Santa Louis pernah terjadi di seluruh Amerika, terutama di Teksas dan beberapa negara bagian barat-tengah. Resiko kematian terbesar ditemukan pada orang yang lebih tua.Virus kelompok Kalifornia terdiri dari : virus Kalifornia (banyak ditemukan di AS barat), virus La Crosse (di AS barat-tengah),virus Jamestown Canyon (di New York).
Ketiga virus ini terutama menyerang anak-anak. Di bagian dunia yang lain, arbovirus yang berbeda tetapi masih berhubungan, menyebabkan ensefalitis yang ditularkan secara periodik dari alam kepada manusia.
Penyakit-penyakit tersebut adalah: Ensefalitis Ekuin Venezuela, Ensefalitis Jepan Ensefalitis Musim Panas-Musim Semi Rusia dan Ensefalitis lainnya yang dinamai sesuai daerah geografis dimana mereka terjadi. Satu dari infeksi arbovirus penting yang paling dikenal dan bersejarah adalah demam kuning (yellow fever).
Demam kuning adalah penyakit virus yang disebarkan oleh nyamuk, menyebabkan demam, perdarahan dan sakit kuning. Bisa berakibat fatal.
Penyakit ini banyak ditemukan di Afrika Tengah dan Amerika Tengah dan Selatan.Demam dengue merupakan infeksi arbovirus yang terjadi di seluruh dunia, baik di daerah tropik maupun subtropik. Infeksi ini disebarkan oleh nyamuk, menyebabkan demam, pembesaran kelenjar getah bening dan perdarahan. Bisa terjadi nyeri otot dan persendian yang hebat dan kadang-kadang disebut demam tulang-retak (breakbone fever). Bisa berakibat fatal. Lebih sering menyerang anak dibawah usia 10 tahun, dan infeksi berulang dengan jenis virus yang berbeda bisa terjadi pada tahun berikutnya.
Virus penyebab ensefalitis disebarkan oleh nyamuk jenis tertentu yang ditemukan di daerah geografis tertentu.
Penyakit ini merupakan endemis (terus menerus ada), tetapi wabah terjadi secara periodik bila jumlah binatang yang terinfeksi bertambah.Pada manusia terjadi secara kebetulan.
Melihat banyaknya kasus ensefalitis yang disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme yang dapat menyerang pada semua umur terutama pada anak- anak maka penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan ini sebagai bahan makalah.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksudkan dengan ensefalitis?
2. Faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan ensefalitis?
3. Manifestasi klinis apa saja yang terjadi pada ensefalitis?
4. Bagaimana cara penanggulangan ensefalitis?
5. Bagaimana cara melakukan asuhan keperawatan terhadap pasien ensefalitis?
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah menyusun makalah ini diharapkan mahasiswa mengetahui gambaran umum tentang ensefalitis dan asuhan keperawatannya.
2. Tujuan Khusus
a) Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian ensefalitis
b) Mahasiswa mampu menjelaskan penyebab ensefalitis
c) Mahasiswa mampu menjelaskan patogenesis ensefalitis
d) Mahasiswa mampu menjelaskan manifestasi klinis ensefalitis
e) Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan ensefalitis
f) Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien ensefalitis.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. PENGERTIAN
Ensefalitis adalah peradangan pada jaringan otak yang dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme(bakteri, cacing, protozoa, jamur, ricketsia atau virus).
B. PENYEBAB
Bakteri penyebab ensefaliti supuratif akut adalah Staphylococcus aureus, streptokok, E.coli,M.tuberculosa dan T.pallidum.Tiga bakteri yang pertama merupakan penyebab ensefalitis bakterial akut yang menimbulkan pernanahan pada korteks serebri sehingga terbentuk abses serebri.Ensefalitis bakterial akut sering disebut ensefalitis supuratif akut.
Di bagian dunia yang lain, arbovirus yang berbeda tetapi masih berhubungan, menyebabkan ensefalitis yang ditularkan secara periodik dari alam kepada manusia. Penyakit-penyakit tersebut adalah : Ensefalitis Ekuin Venezuela, Ensefalitis Jepang, Ensefalitis Musim Panas-Musim Semi Rusia dan Ensefalitis lainnya yang dinamai sesuai daerah geografis dimana mereka terjadi. Satu dari infeksi arbovirus penting yang paling dikenal dan bersejarah adalah demam kuning (yellow fever).
Demam kuning adalah penyakit virus yang disebarkan oleh nyamuk, menyebabkan demam, perdarahan dan sakit kuning. Bisa berakibat fatal.
Penyakit ini banyak ditemukan di Afrika Tengah dan Amerika Tengah dan Selatan. Demam dengue merupakan infeksi arbovirus yang terjadi di seluruh dunia, baik di daerah tropik maupun subtropik.
Infeksi ini disebarkan oleh nyamuk, menyebabkan demam, pembesaran kelenjar getah bening dan perdarahan.
Bisa terjadi nyeri otot dan persendian yang hebat dan kadang-kadang disebut demam tulang-retak (breakbone fever).
Bisa berakibat fatal. Lebih sering menyerang anak dibawah usia 10 tahun, dan infeksi berulang dengan jenis virus yang berbeda bisa terjadi pada tahun berikutnya.
C. PATOGENESIS
Pada ensefalitis supuratif akut, peradangan dapat berasal dari radang, abses didalam paru, bronkiektasis, empiema, osteomielitis tengkorak, fraktur terbuka, trauma tembus otak,atau penjalaran langsung kedalam otak dari otitis media, mastoiditis,sinusitis.
Akibat proses ensefalitis supuratif akut ini akan terbentuk abses serebri yang biasanya terjadi di substansia alba karena pendarahan disini kurang intensif dibandingkan dengan substansia grisea.Reaksi dini jaringan otak terhadap kuman yang bersarang adalah edema dan kongesti yang disusul dengan perlunakan dan pembentukan nanah.Fibroblas sekitar pembuluh darah bereaksi dengan proliferasi.Astroglia juga ikut dan membentuk kapsul.Bila kapsul ini pecah, nanah masuk ke ventrikel dan menimbulkan kematian.
Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara:
 Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu.
 Penyebaran hematogen primer:virus masuk ke dalam darah
Kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.
 Penyebaran melalui saraf-saraf : virus berkembang biak di Permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.

D. MANIFESTASI KLINIS
Secara umum, gejala berupa trias ensefalitis yang terdiri dari demam, kejang, dan kesadaran menurun.Pada ensefalitis supuratif akut yang berkembang menjadi abses serebri, akan timbul gejala-gejala sesuai dengan proses patologik yang terjadi di otak.Gejala-gejala tersebut ialah gejala-gejala infeksi umum, tanda- tanda meningkatya tekanan intrakranial yaitu nyeri kepala yang kronik progresif, muntah, penglihatan kabur, kejang, kesadaran menurun.Pada pemeriksaan mungkin terdapat edema papil.Tanda- tanda defisit neurologis tergantung pada lokasi dan luas abses.
Masa Prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremintas dan pucat .Gejala lain berupa gelisah, iritabel, perubahan perilaku, gamgguan kesadaran, kejang. Kadang-kadang disertai tanda Neurologis tokal berupa Afasia, Hemifaresis, Hemiplegia, Ataksia, Paralisis syaraf otak. Penyebab Ensefalitis: Penyebab terbanyak adalah virus. Sering adalah Herpes simplex dan Arbo virus. Jarang adalah Entero virus, Mumps, Adeno virus. Post Infeksi adalah Measles, Influenza, Varisella. Post Vaksinasi adalah Pertusis
Ensefalitis supuratif akut :Bakteri penyebab Esenfalitis adalah Staphylococcusaureus,Streptokok,E.Coli,Mycobacterium dan T. Pallidum.Ensefalitis virus:Virus yang menimbulkan adalah virus R N A (Virus Parotitis) virus morbili,virus rabies,virus rubella,virus denque,virus polio,cockscakie A,B,Herpes Zoster,varisela,Herpes simpleks,variola.
Gejala-Gejala yang mungkin terjadi pada Ensefalitis adalah Panas badan meningkat ,photo fobi,sakit kepala ,muntah-muntah lethargy ,kadang disertai kaku kuduk apabila infeksi mengenai meningen.Anak tampak gelisah kadang disertai perubahan tingkah laku. Dapat disertai gangguan penglihatan ,pendengaran ,bicara dan kejang.

E. PENATALAKSANAAN
• Penatalaksanaan Medis
Pada ensefalitis supuratif akut diberikan amphisilin 4×3-4 g dan kloramfenikol 4×1 g per 24 jam intravena,selama 10 hari.Steroid dapat diberikan untuk mengurangi edema otak.Bila abses tunggal dan dapat dicapai dengan cara operasi sebaiknya dibuka dan dibersikan tetapi bila multipel, yang di operasi ialah yang terbesar dan mudah di capai.
• Penatalaksanaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada kasus ensefalitis supuratif akut adalah pemeriksaan yang biasa di lakukan pada kasus- kasus infeksi lainnya.Disamping itu banyak juga di lakukan pemeriksaan elektroensefalogram (EEG),foto rontgen kepala, bila mungkin CT-Scan otak, atau arteriografi.Pungsi lumbal tidak di lakukan bila terdapat edema papil.Bila di lakukan pemeriksaan cairan serebrospinal maka dapat di peroleh hasil berupa peningkatan intrakranial, pleiositosis polinuklearis,jumlah protein yang lebih besar dari pada normal, dan kadar klorida dan glukosa dalam batas- batas normal.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ENSEFALITIS

A. PENGKAJIAN
1. Identitas
Yaitu identitas pasien dan identitas penggung jawab.Ensefalitis dapat terjadi pada semua kelompok umur.
2. Keluhan utama
Panas badan meningkat, kejang, kesadaran menurun.
1. Riwayat kesehatan
a) Riwayat penyakit sekarang
Mula-mula anak rewel ,gelisah ,muntah-muntah ,panas badan meningkat kurang lebih 1-4 hari , sakit kepala.
b) Riwayat penyakit dahulu
Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita penyakit Herpes, penyakit infeksi pada hidung,telinga dan tenggorokan
c) Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contoh : Herpes dll. Bakteri contoh : Staphylococcus Aureus,Streptococcus , E , Coli ,dll.
d) Imunisasi
Kapan terakhir diberi imunisasi DTPKarena ensefalitis dapat terjadi post imunisasi pertusis.Pertumbuhan dan Perkembangan.
2. Pola- pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
 Kebiasaan
Sumber air yang dipergunakan dari PAM atau sumur, kebiasaan buang air besar di WC,lingkungan penduduk yang berdesakan (daerah kumuh)
 Status Ekonomi
Biasanya menyerang klien dengan status ekonomi rendah.
b. Pola Nutrisi dan Metabolisme
 Menyepelekan anak yang sakit, tanpa pengobatan yang memenuhi Nutrisi
Biasanya klien dengan gizi kurang asupan makana dan cairan dalam jumlah kurang dari kebutuhan tubuh.,
 Pada pasien dengan Ensefalitis biasanya ditandai
Dengan adanya mual, muntah, kepalah pusing, kelelahan.
 Status Gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh.
Postur tubuh biasanya kurus ,rambut merah karena kekurangan vitamin A,berat badan kurang dari normal. Menurut rumus dari BEHARMAN tahun 1992, umur 1 sampai 6 tahun
Umur (dalam tahun) x 2 + 8
Tinggi badan menurut BEHARMAN umur 4 sampai 2 x tinggi badan lahir. Perkembangan badan biasanya kurang karena asupan makanan yang bergizi kurang.Pengetahuan tentang nutrisi biasanya pada orang tua anak yang kurang pengetahuan tentang nutrisi.Yang dikatakan gizi kurang bila berat badan kurang dari 70% berat badan normal.
c. Pola Eliminasi
 Kebiasaan Defekasi sehari-hari
Biasanya pada pasien Ensefalitis karena pasien tidak dapat melakukan mobilisasi maka dapat terjadi obstipasi.
 Kebiasaan Miksi sehari-hari
Biasanya pada pasien Ensefalitis kebiasaan mictie normal frekuensi normal. Jika kebutuhan cairan terpenuhi. Jika terjadi gangguan kebutuhan cairan maka produksi irine akan menurun , konsentrasi urine pekat.
d. Pola tidur dan istirahat
 Biasanya pola tidur dan istirahat pada pasien Ensefalitis biasanya tidak dapat dievaluasi karena pasien sering mengalami apatis sampai koma.
e. Pola Aktivitas
 Aktivitas sehari-hari : klien biasanya terjadi gangguan karena bx Ensefalitis dengan gizi buruk mengalami kelemahan.
 Kebutuhan gerak dan latihan : bila terjadi kelemahan maka latihan gerak dilakukan latihan positif.Upaya pergerakan sendi : bila terjadi atropi otot pada px gizi buruk maka dilakukan latihan pasif sesuai ROM. Kekuatan otot berkurang karena px Ensefalitisdengan gizi buruk .Kesulitan yang dihadapi bila terjadi komplikasi ke jantung ,ginjal ,mudah terkena infeksi aneberat,aktifitas togosit turun ,Hb turun ,punurunan kadar albumin serum ,gangguan pertumbuhan.
f. Pola Hubungan Dengan Peran
 Interaksi dengan keluarga / orang lain biasanya pada klien dengan Ensefalitis kurang karena kesadaran klien menurun mulai dari apatis sampai koma.
g. Pola Persepsi dan pola diri
 Pada klien Ensenfalitis umur > 4 ,pada persepsi dan konsep diri, yang meliputi Body Image ,seef Eslum ,identitas deffusion deper somalisasi belum bisa menunjukkan perubahan.
h. Pola sensori dan kuanitif
 Sensori
– Daya rasa
– Daya peraba
– Daya pencium
– Daya penglihat
i. Pola Reproduksi Seksual
 Bila anak laki-laki apakah testis sudah turun ,fimosis tidak ada
j. Pola penanggulangan Stress
 Pada pasien Ensefalitis karena terjadi gangguan kesadaran : Stress fisiologi  biasanya anak hanya dapat mengeluarkan air mata saja ,tidak bisa menangis dengan keras (rewel) karena terjadi afasia.Stress Psikologi tidak di evaluasi
k. Pola Tata Nilai dan Kepercayaan
 Anak umur 3-4 tahun belumbisa dikaji
B. ANALISA DATA
PENGELOMPOKAN
DATA KEMUNGKINAN PENYEBAB
POHON MASALAH MASALAH
Data subyektif: ibu mengatakan anaknya sering spastik. Virus/Bakteri, mengenai CNS, kerusakan susunan saraf pusat.
Resiko Kontruaktur
Data obyektif: anak sering spastik ± 3-4 kali dalam 3 jam. Kejang/ spastik, resiko trauma
Resiko kontraktur
Data subyektif: Paralisys Otot- otot Menelan Gangguan Pemenuhan Nutrisi
Data obyektif
Teropong Sonde, diet 3×100 cc tem sonde, susu dancow 6×100 cc Asupan Nutrisi per-oral kurang Gangguan pemenuhan nutrisi
Data subyektif:Ibu klien mengatakan anaknya tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya Gangguan integritas Resiko infeksi
Data Obyektif : tidak bisa bergerak, klien sering ngompol, kulit sering basah Gangguan integritas Resiko infeksi

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG SERING TERJADI
 Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan terhadap infeksi turun.
 Resiko tinggi perubahan peR/usi jaringan b/d Hepofalemia, anemia.
 Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umum.
 Nyeri b/d adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis, gelisah.
 Gangguan mobilitas b/d penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM terbatas.
 Gangguan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah.
 Gangguan sensorik motorik (penglihatan, pendengaran, gaya bicara) b/d kerusakan susunan saraf pusat.
 Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan sakit kepala mual.
 Resiko gangguan integritas kulit b/d daya pertahanan tubuh terhadap infeksi turun.
 Resiko terjadi kontraktur b/d spastik berulang.

D. RENCANA KEPERAWATAN
 Diagnosa Keperawatan I.
Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan tubuh terhadap infeksi turun
Tujuan:
– tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil:
– Masa penyembuhan tepat waktu tanpa bukti penyebaran infeksi endogen
Intervensi
– Pertahanan teknik aseptic dan teknik cuci tangan yang tepat baik petugas atau pengunmjung. Pantau dan batasi pengunjung.
R/. menurunkan resiko px terkena infeksi sekunder, mengontrol penyebaran
Sumber infeksi, mencegah pemajaran pada individu yang mengalami nfeksi saluran nafas atas.
– Abs. suhu secara teratur dan tanda-tanda klinis dari infeksi.
R/. Deteksi dini tanda-tanda infeksi merupakan indikasi perkembangan Meningkosamia .
– Berikan antibiotika sesuai indikasi
R/. Obat yang dipilih tergantung tipe infeksi dan sensitivitas individu.
 Diagnosa Keperawatan II
Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umum
Tujuan : Tidak terjadi trauma
Kriteria hasil :Tidak mengalami kejang / penyerta cedera lain
Intervensi :
– Berikan pengamanan pada pasien dengan memberi bantalan,penghalang tempat tidur tetapn terpasang dan berikan pengganjal pada mulut, jalan nafas tetap bebas. R/. Melindungi px jika terjadi kejang , pengganjal mulut agak lidah tidak Tergigit.Catatan: memasukkan pengganjal mulut hanya saat mulut relaksasi.
– Pertahankan tirah baring dalam fase akut.
R/. Menurunkan resiko terjatuh / trauma saat terjadi vertigo.
– Kolaborasi.
Berikan obat sesuai indikasi seperti delantin, valum dsb.
R/. Merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang.
– Abservasi tanda-tanda vital
R/. Deteksi diri terjadi kejang agak dapat dilakukan tindakan lanjutan.
 Diagnosa Keperawatan III
Resiko terjadi kontraktur b/d kejang spastik berulang
Tujuan :Tidak terjadi kontraktur
Ktiteria hasil :Tidak terjadi kekakuan sendi,,Dapat menggerakkan anggota tubuh
Intervensi
– Berikan penjelasan pada ibu klien tentang penyebab terjadinya spastik ,
Terjadi kekacauan sendi.
R/ . Dengan diberi penjelasan diharapkan keluarga mengerti dan mau
Membantu program perawatan .
– Lakukan latihan pasif mulai ujung ruas jari secara bertahap
R/ Melatih melemaskan otot-otot, mencegah kontraktor
– Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam
R/ Dengan melakukan perubahan posisi diharapkan peR/usi ke
Jaringan lancar, meningkatkan daya pertahanan tubuh .
– Observasi gejala kaerdinal setiap 3 jam
R/ Dengan melakukan observasi dapat melakukan deteksi dini bila
Ada kelainan dapat dilakukan inteR/ensi segera
Kolaborasi untuk pemberian pengobatan spastik dilantin / valium sesuai
Indikasi.R/ Diberi dilantin / valium ,bila terjadi kejang spastik ulang.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Ensefalitis adalah peradangan pada jaringan otak yang dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme(bakteri, cacing, protozoa, jamur, ricketsia atau virus). Bakteri penyebab ensefaliti supuratif akut adalah Staphylococcus aureus, streptokok, E.coli,M.tuberculosa dan T.pallidum.Tiga bakteri yang pertama merupakan penyebab ensefalitis bakterial akut yang menimbulkan pernanahan pada korteks serebri sehingga terbentuk abses serebri.Ensefalitis bakterial akut sering disebut ensefalitis supuratif akut.
Secara umum, gejala berupa trias ensefalitis yang terdiri dari demam, kejang, dan kesadaran menurun.Pada ensefalitis supuratif akut yang berkembang menjadi abses serebri, akan timbul gejala-gejala sesuai dengan proses patologik yang terjadi di otak.Gejala-gejala tersebut ialah gejala-gejala infeksi umum, tanda- tanda meningkatya tekanan intrakranial yaitu nyeri kepala yang kronik progresif, muntah, penglihatan kabur, kejang, kesadaran menurun.Pada pemeriksaan mungkin terdapat edema papil.Tanda- tanda defisit neurologis tergantung pada lokasi dan luas abses.
Pemeriksaan yang dilakukan pada kasus ensefalitis supuratif akut adalah pemeriksaan yang biasa di lakukan pada kasus- kasus infeksi lainnya.Disamping itu banyak juga di lakukan pemeriksaan elektroensefalogram (EEG),foto rontgen kepala, bila mungkin CT-Scan otak, atau arteriografi.Pungsi lumbal tidak di lakukan bila terdapat edema papil.Bila di lakukan pemeriksaan cairan serebrospinal maka dapat di peroleh hasil berupa peningkatan intrakranial, pleiositosis polinuklearis,jumlah protein yang lebih besar dari pada normal, dan kadar klorida dan glukosa dalam batas- batas normal.
B. SARAN
Ensefalitis supuratif akut merupakan suatu penyakit peradangn yang disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme yang dapat menyerang semua umur,maka kita harus menjaga pola hidup yang baik.yaitu dari dalam diri sendiri maupun lingkungannya sehingga terhindar dari berbagai macam penyakit.

DAFTAR PUSTAKA
 1998 Laboratorium UPF Ilmu Kesehatan Anak, Pedoman Diagnosis dan Terapi,Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya
 Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta,1997.
 Rahman M, Petunjuk Tentang Penyakit, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium, Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba, Jakarta, 1986.
 Sacharian, Rosa M, Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta ,1993.
 Sutjinigsih (1995), Tumbuh kembang Anak, Penerbit EGC, Jakarta.
 Arif mansjoer suprohaita,penerbit fakultas kedokteran universitas indonesia,kapita selekta kedokteran,edisi 2 jilid 3,jakarta,2000.
http://keperawatananakafidaruly.blogspot.com/2012/10/askep-ensefalitis-pada-anak.html

Read Full Post »

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Medula Spinalis adalah bagian dari sistem saraf yang membentuk sistem kontinu dengan batang otak yang keluar dari hemisfer serebral dan memberikan tugas sebagai penghubung otak dan saraf perifer, seperti pada kulit dan otot. Panjangnya rata-rata 45 cm dan menipis pada jari-jari. Medula spinalis ini memanjang dari foramen magnum di dasar tengkorak sampai bagian lumbar kedua tulang belakang, yang berakhir di dalam berkas serabut yang disebut konus medullaris. Seterusnya di bawah lumbar kedua adalah akar saraf, yang memanjang melebihi konus, dan disebut kauda equina dimana akar saraf ini menyerupai akar kuda.
Saraf-saraf medula spinalis tersusun atas 33 segmen yaitu 7 segmen servikal, 12 torakal, 5 lumbal, 5 sakral, dan 5 segmen koksigius. Medula spinalis mempunyai 31 pasang saraf spinal, masing-masing segmen mempunyai satu untuk setiap sisi tubuh. Seperti otak, medula spinalis terdiri atas substansi grisea dan alba. Substansi grisea di dalam otak ada di daerah eksternal dan substansi alba ada pada bagian internal.
Cedera medula spinalis adalah cedera yang mengenai servikalis vertebralis dan lumbali akibat dari suatu traumayang mengenai tulang belakang. Cedera medula spinalis adalah masalah kesehatan mayor yang mempengaruhi 150.000 sampai 500.000 orang di Amerika Serikat, dengan perkiraan 10.000 cedera baru yang terjadi setiap tahun. Kejadian ini lebih dominan pada pria usia muda sekitar 75% dari seluruh cedera. Setengah dari kasus ini akibat dari kecelakaan kendaraan bermotor, selain itu banyak akibat jatuh, olahraga dan kejadian industri dan luka tembak.
Dua pertiga kejadian adalah usia 30 tahun atau lebih muda. Kira-kira jumlah total biaya yang di gunakan untuk cedera ini mencapai 2 juta dollar pertahun. Hal ini merupakan frekuensi yang tinggi dihubungkan dengan cedera dan komplikasi medis.
Vertebra yang paling sering mengalami cedera adalah medula spinalis pada daerah servikal ke-5, 6, dan 7, torakal ke-12 dan lumbal pertama. Vertebra ini adalah paling rentan karena ada rentang mobilitas yang lebih besar dalam kolumna vertebral pada area ini.
B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Cedera Medula Spinalis?
2. Bagaiman mekanisme cedera Medula Spinalis?
3. Apa penyebap terjadinya Cedera Medula Spinalis?
4. Bagaimana patofisiologi (pathway) Cedera Medula Spinalis?
5. Bagaimana manifestasi klinisnya?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk mengetahui terjadinya Cedera Medula Spinalis?
7. Bagaiamana pentalaksanaan medis bagi Cedera Medula Spinalis?
8. Apa saja komplikasi yang terjadi pada Cedera Medula Spinalis?
9. Bagaimana konsep Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Cedera Medula Spinalis?

C. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas kelompok blok Neurobehaviour II yang diberikan oleh dosen pembimbing, serta mengetahui bagaimana konsep penyakit atau Cedera Medula Spinalis serta bagaimana Asuhan Keperawatannya.
D. Tujuan Khusus

1. Mengetahui pengertian Cedera Medula Spinalis
2. Mengetahui mekanisme terjadinya Cedera Medula Spinalis
3. Mengetahui penyebap Cedera Medula Spinalis
4. Mengetahui patofisiologi Cedera Medula Spinalis
5. Mengetahui manifestasi klinis Cedera Medula Spinalis
6. Mengidentifikasi pemeriksaan penunjang Cedera Medula Spinalis
7. Mengidentifikasi penatalaksanaan medis Cedera Medula Spinalis
8. Mengetahui komplikasi yang terjadi pada Cedera Medula Spinalis
9. Mengidentifikasi dan menjelaskan konsep asuhan keperawatan Cedera Medula Spinalis

E. Sistematika penyusunan
Penyusunan makalah ini terdiri atas empat (IV) bab yang disusun secara sistematis meliputi :
BAB I : Pendahuluan yang terdiri atas latar belakang,rumusan masalah, tujuan umum, tujuan khusus, sistematika penyusunan dan ruang lingkup penyusunan
BAB II : Pembahasan yang terdiri atas konsep dasar penyakit Cedera Medula Spinalis meliputi pengertian, mekanisme terjadinya, etiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan medis dan komplikasi
BAB III : Asuhan Keperawatan yang terdiri atas Pengkajian, Diagnosa, Perencanaan Keperawatan
BAB IV : Penutup yang terdiri atas kesimpulan dan saran

F. Ruang Lingkup Penyusunan

Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menggunakan metode deskriftif yaitu dengan menggambarkan konsep dasar dari penyakit Cedera Medula Spinalis dan asuhan keperawatannya dengan literatur yang diperoleh dari buku-buku perpustakaan, internet, dan diskusi dari kelompok.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Cedera Medula Spinalis adalah cedera yang mengenai Medula Spinalis baik itu bagian servikalis, torakalis, lumbal maupun sakral akibat dari suatu trauma yang mengenai tulang belakang. (Arif Muttaqin.2011)
Chairuddin Rasjad (1998) menegaskan bahwa semua trauma tulang belakang harus dianggap suatu trauma hebat sehingga sejak awal pertolongan pertama dan transportasi ke rumah sakit, penderita harus diperlakukan secara hati-hati. Trauma tulang belakang dapat mengenai jaringan lunak pada tulang belakang yaitu ligamen dan diskus, tulang belakang dan sumsum tulang belakang (medula Spinalis)
B. Mekanisme Cedera pada Medula Spinalis
Mekanisme trauma yang terjadi pada Medula Spinalis yang memungkinkan terjadinya gangguan pada Medula Spinalis yaitu :
1. Fleksi
Trauma terjadi akibat fleksi dan disertai dengan sedikit kompresi pada vertebra. Vertebra mengalami tekanan berbentuk remuk yang dapat menyebapkan kerusakan tau tanpa kerusakan ligamen posterior. Apabila terdapat kerusakan ligamen posterior, maka fraktur bersifat tidak stabil dan dapat terjadi subluksasi.
2. Fleksi dan Rotasi
Trauma jenis ini merupakan suatu trauma fleksi yang bersama-sama dengan rotasi. Terdapa tstrain dari ligamen dan kapsul juga ditemukan fraktur faset. Pada keadaan ini terjadi pergerakan ke depan/ dislokasi vertebra diatasnya. Semua fraktur jenis ini tidak stabil.
3. Kompresi vertikal
Suatu trauma vertikal yang secara langsng mengenai vertebra yang akan menyebapkan kompresi aksial. Nukleus pulposus akan memecahkan permukaan serta badan vertebra secara vertikal. Material diskus akan masuk dalam badan vertebra dan menyebapkan vertebra menjadi pecah. Pada trauma ini elemen posterior masih intak sehingga fraktur yang terjadi bersifat stabil
.
4. Fleksi lateral
Kompresi atau trauma distraksi yang menimbulkan fleksi lateral akan menyebapkan fraktur pada komponen lateral yaitu pedikel, foramen vertebra dan sendi faset.
5. Fraktur dislokasi
Suatu trauma yang menyebapkan terjadinya fraktur tulang belakang dan terjadi dislokasi pada ruas tulang belakang.

C. Etiologi
Cedera Medula Spinalis disebapkan oleh trauma langsung yang mengenai tulang belakang dimana trauma tersebut melampaui batas kemampuan tulang belakang dalam melindungi saraf-saraf di dalamnya. Trauma langsung tersebut dapat berupa :
1. Kecelakaan lalu lintas
2. Kecelakaan olahraga
3. Kecelakaan industri
4. Jatuh dari pohon atau bangunan
5. Luka tusuk
6. Luka tembak
7. Kejatuhan benda keras

D. Patofisiologi
Trauma pada medula spinalis dapat bermanifestasi pada kerusakan struktur kolumna vertebra, kompresi diskus, sobeknya ligamentum servikalis, torakalis, lumbal dan sakral, serta kompresi medula spinalis pada setiap sisinya yang dapat bermanifestasi pada kompresi radiks dan distribusi saraf sesuai segmen dari tulang belakang.
Trauma pada medula spinalis bisa menyebapkan cedera spinal stabil maupun tidak stabil. Cedera stabil adalah cedera yang komponen vertebralnya tidak akan tergeser oleh gerakan normal sehingga sumsum tulang tidak rusak dan risikonya lebih rendah.
Cedera tidak stabil adalah cedera yang dapat mengalami pergeseran lebih jauh dimana terjadi perubahan struktur dari oseoligamentosa posterior (pedikulus, sendi-sendi permukaan, komponen pertengahan dan kolumna anterior.
Pada cedera hiperekstensi servikal, pukulan pada wajah atau dahi akan memaksa kepala ke belakang dan tak ada yang menyangga oksiput sehingga kepala itu membentur bagian atas punggung. Ligamen anterior dan diskus dapat rusak atau aurkus safar mungkin mengalami kerusakan.
Pada cedera fleksi akan meremukkan badan vertebral menjadi baji ini adalah cedera yang stabil dan merupakan tiper fraktur vertebral yang paling sering ditemukan. Jika ligamen posterior sobek, cedera bersifat tak stabil dan badan vertebra bagian atas dapat miring ke depan diatas vertebra dibawahnya.
PATHWAY
TERLAMPIR
E. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis atau tanda gejala dari Cedera Medula Spinalis ini biasanya diketahui dari pasien itu sendiri jika dalam keadaan sadar seperti :
1. Pasien biasanya mengeluh nyeri akut pada belakang leher yang menyebar sepanjang saraf yang terkena
2. Pasien biasanya mengatakan takut leher atau tulang punggungnya patah
3. Pada beberapa tingkat cedera yang terjadi biasanya mengalami paralisis sensori dan motorik total
4. Kehilangan kontrol kandung kemih dan usus besar
5. Biasanay terjadi retensi urine, dan distensi kandung kemih, penurunan keringat dan tonus vasomotor, penurunan tekana darah diawalai dengan vaskuler perifer.
6. Penurunan fungsi pernafasan sampai pada kegagalan pernafasan
7. Kehilangan kesadaran

F. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk melihat bagian Medula Spinalis yang mengalami cedera atau tingkat keparahan trauma yang terjadi diantaranya :
1. Pemeriksaan Neurologis lengkap
2. Pemeriksaan tulang belakang : deformitas, pembengkakan, nyeri tekan, gangguan gerakan/ trauma leher
3. Pemeriksaan radiologis : Foto polos vertebra, CT-Scan, MRI, dan Mielografi
4. EKG : dilakukan karena bisanya terjadi bradikardi pada Cedera Medula Spinalis

G. Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan medis/ farmakologis yang diberikan adalah bertujuan untuk mencegah cedera medula spinalis berlanjut dan mengobservasi gejala penurunan neurologik. Penatalaksanaan medis yang dilakukan antara lain :
1. Farmakologi : diberikan Kortikosteroid dalam dosis tinggi yang bertujuan untuk memperbaiki prognosis dan mengurangi kecacatan bila diberikan dalan waktu 8 jam cedera.
2. Pemberian O2 : bertujuan untuk mempertahankan saturasi O2 dalam darah agar tetap tinggi, karena anoksemia dapat menimbulkam atau memperburuk defisit neurologik medula spinalis
3. Tindakan pembedahan dilakukan pada suatu keadaan tertentu misalnya Cedera terbuka dengan benda asing/tulang dalam kanalis spinalis, Reduksi terbuka pada dislokasi dan Fraktur servikal dengan lesi parsial pada medulla spinalis

H. Komplikasi
Komplikasi yang akan terjadi pada pasien dengan Cedera Medula Spinalis dapat berupa :
1. Syok spinal yaitu depresi tiba-tiba aktivitas refleks pada medula spinalis dibawah tingkat cedera.
2. Trombosis vena profunda
3. Gagal napas
4. Hiperefleksia autonomik
5. Dekubitus
6. Infeksi

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian

1. Identitas pasien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, suku, pendidikan, pekerjaan, tanggal MRS, tanggal pengkajian, dan sumber informasi.
2. Riwayat penyakit yang meliputi :
– Keluhan utama : pasien biasanya mengeluh nyeri dan kekakuan pada leher
– Riwayat penyakit dahulu
Yaitu apakah pasien pernah mengalami cedera yang sama atau apakah pasien memiliki riwayat penyakit lain yang dapat mempengaruhi terjadinya cedera medula spinalis ini, misalnya stroke atau mungkin pasien pernah mengalami kecelakaan yang mengenai tulang belakang namun tidak dilaporkan saat itu.
– Riwayat penyakit sekarang
Yaitu pada pasien dengan cedera medula spinalis biasanya mengeluh nyeri akut pada bagian leher atau bagian lain yang mengalami cedera dan mengeluh terjadi kekakuan pada leher.
– Riwayat penyakit keluarga
Yaitu adakah keluarga pasien yang pernah mengalami penyakit yang sama atau ada anggota keluarga yang memiliki penyakit yang dapat menyebapkan terjadainya Cedera Medula Spinalis seperti gangguan koordinasi motorik yang dapat menyebapkan risiko cedera yang tinggi, atau stroke.
3. Pemeriksaan fisik
– Keadaan umum pasien : biasanya pasien dapat mengalami penurunan kesadaran ataupun tidak.
– TTV : bisanya terjadi frekuensi napas lambat (bradipnea) sampai pada gagal napas, tekanan darah biasanya menurun.
– Pemeriksaan neurologis : untuk mengetahui fungsi motorik dan sensorik, apakah terjadi perubahan atau tidak
– GCS : untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien
– Kaji kemapuan batuk serta auskultasi paru-paru : untuk mengetahui apakah terjadi paralisis otot abdominal dan otot pernapasan yang dapat menyebapkan penurunan batuk dan pergerakan usus.
– Kaji refleks tendon, dan abdominal, refleks babinski.
– Kaji tingkat nyeri menggunakan PQRST

4. Pemeriksaan penunjang
– CT-Scan
– Pemeriksaan neurologis lengkap
– Pemeriksaan tulang belakang
– EKG

A. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang mungkin mucul pada cedera medula spinalis diantanya :
1. Aktual/risiko tinggi cedera korda spinalis berhubungan dengan kompresi korda sekunder dari cedera spinal servikal tidak stabil, manipulasi berlebihan pada leher
2. Aktual/risiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kelemahan otot-otot pernapasan, kelumpuhan otot diafragma
3. Aktual/risiko penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan denyut jantung, dilatasi pembuluh darah, penurunan kontraksi otot jantung sekunder dari hilangnya kontrol pengiriman rekfleks baroreseptor akibat kompresi korda
4. Nyeri berhubungan dengan kompresi akar servikalis, spasme otot servikalis sekunder dari cedera spinal stabil dan tidak stabil
5. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan tidak adekuatnya pengiriman pesan kontrol motorik sekunder akibat kompresi akar saraf servikal
6. Kecemasan berhubungan dengan prognosis penyakit sekunder dari respon psikologis atas kondisi penyakit.

B. Perencanaan
No Diagnosa Tujuan Rencana tindakan Rasional
1 Aktual/risiko tinggi cedera b/d kompresi korda spinalis akibat manipulasi berlebihan pada leher Setelah dilakukan tindakan selama …x 24 jam diharapka injuri tidak terjadi dengan kriteria hasil :
1. TTV dalam batas normal,
2. GCS normal (4,5,6)
3. Tidak ada tanda-tanda syok spinal
1. Observasi TTV
2. Monitor tiap jam akan adanya syok spinal pada fase awal cedera selama 48 jam
3. Lakukan teknik pengangkatan dengan cara log rolling atau long backboada pada setiap trasnportasi pasien
4. Istirahatkan pasien dan atur posisi fisiologis
5. Beri penjelasan tentang kondisi pasien
6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan radiologi 1. Penurunan denyut jantung dan tekanan darah merupakan tanda awal dari hilangnya sensor pengiriman dari refleks baro reseptor akibat dari kompresi korda
2. Cedera pada vertebra dapat mengakibatkan terjadinya syok spinal.
3. Teknik ini mempunyaki prinsip memindahkan kolumna vertebralis sebagai suatu unit dengan kepala an pelvis tetap menjaga kesejajaran tungang belakang untuk meng hindari kompresi korda
4. Posisi fisiologis akan mengu rangi kompresi saraf leher
5. Usaha untuk meningkatkan kooperatif pasien terhadap intervensi yang diberikan dan membantu menurukan kecemasan pasien
6. Pemeriksaan utama dalam menilai sejauh mana kerusakan yang terjadi pada cedera medula spinalis
2 Aktual/ risiko tinggi pola napas tidak efektif b/d kelemahan otot-otot pernapasan , kelumpuhan otot diafragma Setelah dilakukan perawatan selama …x 24 jam diharapkan tidak terjadi ketidakefektifan pola napas dengan kriteria hasil :
1. RR dalam batas normal
2. Tidak ada tanda-tanda sianosis
3. AGD dalam batas normal
4. Pemeriksa- an kapasitas paru normal 1. Observasi fungsi pernapasan, frekuensi, dan perubahan TTV
2. Pertahankan jalan napas, posisi kepala tanpa gerak
3. Observasi warna kulit
4. Kaji distensi perut dan spasme otot
5. Lakukan pengukuran kapasitas vital, volume tidal, dan kekuatan pernapasan
6. Pantau AGD
7. Berikan oksigen dengan cara yang tepat 1. Disstres pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat sebagai akibat stress fisiologis dapat menunjuk kan terjadinya syok spinal. Trauma pasa C1-C2 menyebap kan kehilangan fungsi per napasaan secara parsial karena otot pernapasan mengalami kelum puhan
2. Klien dengan cedera servikalis akan membutuhkan bantuan untuk mencegah aspirasi dan mem pertahan kan jalan napas
3. Mengetaui terjadinya sianosis
4. Kelainan pada perut disebapkan karena kelum puhan diafragma
5. Menentu kan fungsi otot-otot pernapasan
6. Menge tahui adanya kelainan pertukaran gas misal nya hiper ventilas
7. Metode dipilih sesuai keadaan pasien
3 Aktual /risiko tinggi penurun an curah jantung Setelah dilakukan perawatan selama ….x24 jam diharapkan tidak terjadi penurunan curah jantung dengan kriteria hasil :
1. Frekuendi nadi dalam batas normal
2. TD dalam batas normal
3. CRT >3 detik, akral hangat 1. Kaji tanda penurunan Curah jantung
2. Palpasi nadi perifer
3. Pantau pengeluaran urine
4. Kaji perubahan sensorik conto letargi, cemas, dan depresi
5. Berikan oksigen dengan kanula nasal/masker sesuai indikasi
6. Pantau EKG 1. Kejadian mortality dan morbidity se – hubungan dengan cedera spinal yang tidak stabil meningkat sampai 48 jam pasca cedera
2. Penurunan curah jantung dapat menunjuk kan terjadinya penyrunan denyut nadi,
3. Ginjal berespon untuk menurun kan curah jantung dengan menahan cairan dan natrium,
4. Dapat menunjukkan tidak adekuatnya perfusi serebral sekunder tehadap penurunan curah jantung
5. Meningkatkan sediaan oksigen utnuk kebutuhan janutn dalam melawan efek hipoksia/ anemia
6. Untuk menilai adanya kelainan irama janutng akibat kehilangan kontrol otonom dari pengiriman pesar oleh baro reseptor akibat dari kompresi korda
4 Nyeri b/d kompresi akar saraf servikalis Setelah dilakukan tindakan dibarapkan dalam waktu …x24 jam nyeri berkurang-hilang dengan kriteria hasil :
1. Secara subjektif pasien mengatakan nyeri berkurang
2. Klien tidak gelisah
3. Pasien tidak tampak meringis
4. Skala nyeri 0-1 1. Kaji tingkat nyeri menggunakan
P : Provoks
Q : Quality
R: Regio
S : Scale
T : Time
Dan kaji waktu timbulnya nyeri
2. Lakukan manajemen perawatan nyeri
– Istirahatkan leher pada posisi fisologis dan pasang ban leher
– Ajarkan teknik relasksasi napas dalam pada saat nyeri muncul
– Batasi jumlah pengunjung dan lingkungan tenang 1. Sebagai indikator untuk penentuan tindakan selanjutnya dan untuk mengetahui pan saja saat nyeri timbul
2. Manjemen perawatan nyeri dapat mengurangi nyeri yaitu :
– Posisi fisologis akan menu runkan kom presi saraf leher. Pemasang an fiksasi kolar servikal dapat menjaga kestabilan
– Meningkatkan asupan O2 sehingga menurnkan nyeri sekunder
– Pembatasan jumlah pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi O2 dan lingkungan yang tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Cedera medula spinalis adalah suatu trauma yang mengenai medula spinalis atau sumsum tulang akibat dari suatu trauma langsung yang mengenai tulang belakang. Penyebap cedera medula spinalis adalh kejadian-kejadian yang secara langsung dapat mengakibatkan terjadinya kompresi pada medula spinalis seperti terjatuh dari tempat yang tinggi, kecelakaan lalu lintas, kecelakanaan olaghara dan lain-lain.
Cedera medula spinalis dapat menyebapkan terjadinya kelumpuhan jika mengenai saraf-saraf yang berperan terhadap suatu organ maupun otot. Cedera medula spinalis ini terbagi menjadi 2 yaitu cedera medula spinalis stabil dan tidak stabil.
Penatalaksanaan untuk cedera medula spinalis adalah dengan pemberian obat kortikosteroid dan melihat kepada sistem pernapasan, jika terjadi gangguan maka perlu diberikan oksigen.
Asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien cedera medula spinalis adalah melihat kepada diagnosa apa saja yang muncul. Intinya pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan cedera medula spinalis adalah memperhatikan posisi dalam mobilisasi pasien sehingga tidak memperparah cedera yang terjadi.
B. Saran
Cedera medula spinalis adalah suatu kejadian yang sering terjadi dimasyarakat. Tingkat kejadiannya cukup tinggi karena bis terjadi pada siapa saja dan dimana saja. Sehingga perlu tingkat kehati-hatian yang tinggi dalam melakukan setiap aktivitas agar tidak terjadi suatu kecelakaan yang dapat mengakibatkan cedera ini.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta : EGC
Ariani, Tutu April. 2012. Sistem Neurobehaviour. Jakarta : Salemba Medika
Muttaqin, Arif. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Persyarafan. Jakarta : Salemba Medika
http://Revan-hecher.blogspot.com/p/askep-cidera-kepala.html (diunduh pada tanggal 22 April 2013 pukul 19.00 wita)
http://skypascal007.blogspot.com/2012/11/asuhan-keperawatan-klien-dengan-cedera.html (diunduh pada tanggal 23 April 2013 pukul 21.10 wita)
http://x-asuhankeperawatan.blogspot.com/2012/07/makalah-trauma-medula-spinalis.html (diunduh pada tanggal 23 April 2013 pukul 21.30 wita)

PATHWAY
Trauma pada servikalis fraktur,subluksasi,kompresi trauma ps servikalis tipe
Tipe ekstensi diskus,robeknx ligamentum tipe fleksi
Kompresi akar saraf

Cedera spinal tidak stabil cedera spinal stabil

Kompresi aktual/risti injuri spasme otot fraktur kompresi baji
Korda ligamentum utuh
Aktual/risiko nyeri
Tindakan pola napas tidak efektif kompresi diskus spasme otot
Dekompresi dan curah jantung dan kompresi akar saraf
& stabilisasi di sisinya hambatan mobilitas

Fase asuhan prognosis penyakit
Perioperatif
Kecemasan paralisis ekstremitas atas

Respon psikologis

Read Full Post »

THE NEW PLANET

“ETHER POWER”

 

JUST FOR FUN GUYS

JUST FOR FUN GUYS

(lebih…)

Read Full Post »

THE NEW PLANET “EXO”

THE NEW PLANET “EXO”.

Read Full Post »

THE NEW PLANET “EXO”

BIODATA PENULIS

Author                 : NI LUH NOVITA ARIANTI

TTL                       : Narmada, 25 November 1993

Umur                     : 19 tahun

Alamat                 : Dsn. Peninjoan, Ds. Golong, Kec. Narmada, Kab. Lombok barat,  Prov. NTB, 83371

No. Hp                  : 081917072020 (xl)

Alamat Email      : Aryan_nayo@yahoo.com

Facebook             : Gaemgyu Jewels Novie Yoshioka

Twitter               : @GaemgyuNa_2503

Pekerjaan           : Mahasiswi

Alamat                 : Jln. Swakarsa III No.10-13 Grisak Kekalik – Mataram NTB

Telp. / Fax         : (0370) 638760

Jurusan               : S-1 Keperawatan Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) Mataram

Note                     : NO BASH!NO COPAS!HARGAI HASIL KARYA ORANG LAIN!!!

~~HAPPY READING~~

JUST FOR FUN GUYS

JUST FOR FUN GUYS

(lebih…)

Read Full Post »