Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2013

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gizi adalah zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh yang berhubungan dengan proses sehat, sakit dan proses metabolisme itu sendiri. Makanan yang kita makan merupakan dapat dimanfaatkan oleh tubuh dalam bentuk energi untuk fungsi-fungsi fisiologis, organ tubuh, pergerakan, fungsi kelenjar, fungsi hormon pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang rusak.
Penanganan gizi sangat terkait dengan strategi sebuah bangsa dalam menciptakan SDM yang sehat, cerdas dan produktif. Upaya dalam peningkatan SDM yang berkualitas dimulai dengan cara penanganan pertumbuhan anak – anak kita sebagai bagian dari keluarga , dengan asupan gizi dan perawatan yang baik. Dengan lingkungan yang sehat, maka hadirnya infeksi menular ataupun penyakit masyarakat lain nya dapat dihindari. Ditingkatkan masyarakat factor-faktor seperti lingkungan yang higienis, kesehatan keluarga, pola asuh terhadap anak dan pelayanan kesehatan primer sangat menentukan dalam membentuk anak yang tahan gizi buruk.
Salah satu prioritas pembangunan nasional dibidang kesehatan adalah upaya perbaikan gizi yang berbasis pada sumber daya, kelembagaan, dan budaya local. Kurang gizi akan berdampak pada penurunan kualitas SDM yang lebih lanjut dan dapat berakibat pada kegagalan pertumbuhan fisik, perkembangan mental dan kecerdasan, menurunkan produktivitas, meningkatnyan kesakitan serta kematian. Visi pembangunan gizi adalah “mewujudkan keluarga mandiri sadar gizi untuk mencapai status gizi masyarakat atau keluarga yang optimal”

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan gizi?
2. Apa saja elemen-elemen dan fungsi dari zat gizi tersebut?
3. Apakah yang dimaksud dengan kekurangan gizi dan apa penyebapnya?
4. Apa saja masalah kekurangan gizi yang biasa terdapat di masyarakat?
5. Bagaimana mengatasi masalah kekurangan gizi di masyarakat?
6. Siapa sasaran utama penanganan masalah gizi di masyarakat?
C. Tujuan Umum
Memenuhi tugas Komunitas I mengenai masalah gizi yang terdapat di masyarakat dan mengidentifikasi penangananan dan sasaran utama penanganan masalah gizi tersebut.
D. Tujuan Khusus

1. Mengetahui pengertian gizi
2. Mengetahui elemen-elemen zat gizi dan fungsinya
3. Mengetahui pengertian dan penyebap kekurangan gizi
4. Mengidentifikasi masalah gizi yang ada di masyarakat
5. Mengidentifikasi cara mengatsi masalah gizi di masyarakat
6. Mengetahui sasaran utama penanganan masalah gizi di masyarakat

E. Sistematika Penulisan
Penyusunan makalah ini atas Tiga (III) Bab yang tersusun secara sistematis yang meliputi :
1. BAB I PENDAHULUAN : meliputi Latar belakang, Rumusan masalah, tujuan umum, tujuan khusus, sistematika penulisan dan ruang lingkup penulisan
2. BAB II PEMBAHASAN : meliputi pengertian gizi, elemen-elemen gizi dan fungsinya, pengertian dan penyebap kekurangan gizi, masalah gizi di masyarakat, cara mengatasi masalah gizi di masyarakat, dan sasaran utama penganganan masalah gizi di masyarakat.
3. BAB III PENUTUP : Meliputi kesimpulan dan saran

F. Ruang Lingkup Penyusunan
Penyusunan makalah ini menggunakan metode deskriptif yang menjelaskan konsep gizi masyarakat yang diperoleh dari beberapa literatur buku dan juga internet.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan serta mengatur proses-proses kehidupan (Almatsier, 2005).
Gizi atau makanan merupakan bahan dasar penyusunan bahan makanan yang mempunyai fungsi sumber energi atau tenaga, menyokong pertumbuhan badan, memelihara dan mengganti jaringan tubuh, mengatur metabolisme dan berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh. (Sediaoetama, 1997 (dalam Santoso, 2004))
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digestif, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi. Tanpa adanya gizi yang adekuat, maka kualitas hidup tidak akan optimal dan tentunya akan mempenagruhi proses tumbuh kembang.
B. Elemen-elemen zat gizi dan fungsinya
Elemen nutrisi terdiri atas dua (2) jenis yaitu zat gizi makro dan zat gizi mikro. Zat gizi makro terdiri atas karbohidrat, Protein, dan lemak, sedangkan zat gizi mikro terdiri atas Vitamin, dan Mineral.
1. Karbohirat adalah sumber energi utama tubuh. Karbohidrat akan terurai dalam bentuk glukosa yang kemudian dimanfaatkan oleh tubuh dan kelebihan glukosa akan disimpan di hati dan jaringan otot dalam bentuk glikogen. Fungsi karbohidrat adalah :
– Sebagai sumber energi yang murah
– Sumber energi utama bagi otak dan saraf
– Cadangan untuk tenaga tubuh
– Pengaturan metabolisme lemak
– Efisiensi penggunaan protein
– Memberikan rasa kenyang

2. Protein adalah unsur zat gizi yang sangat berperan dalam penyusunan senyawa-senyawa penting seperti enzim, hormon, dan antibodi. Fungsi protein adalah :
– Dalam bentuk albumin berperan dalam keseimbangan cairan yaitu untuk meningkatkan tekanan osmotik koloid serta keseimbangan asam basa
– Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh
– Pengaturan metabolisme dalam bentuk enzim dan hormon
– Sumber energi disamping karbohidrat dan lemak
– Dalam bentuk kromosom, protein berperan sebagai tempat menyimpan dan meneruskan sifat-sifat keturunan.

3. Lemak atau lipid merupakan sumber energi yang menghasilkan jumlah kalori lebih besar dari karbohidrat dan protein. Fungsi lemak adalah :
– Sebagai sumber energi
– Melarutkan vitamin sehingga dapat diserap oleh usus
– Untuk aktivitas enzim seperti fosfolipid
– Penyusun hormon seperti biosintesis hormon steroid

4. Vitamin adalah komponen organik yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil dan tidak dapat diproduksi dalam tubuh. Vitamin sangat berperan dalam proses metabolisme karena fungsinya sebagai katalisator.

5. Mineral adalah ion anorganik esensial untuk tubuh karena peranannya sebagai katalis dalam reaksi biokimia. Mineral dan vitamin tidak menghasilkan energi, tetapi merupakan elemen kimia yang berperan dalam mempertahankan proses tubuh.

C. Penyebap kekurangan Gizi
Kekurangan Gizi adalah masalah yang dialami beberapa orang dimana indikatornya adalah berat badan yang sangat kurang dari normal, sehingga orang tersebut tampak sangat kurus, dan lemas.
Penyebap kekurangan gizi dibagi menjadi 3 yaitu penyebap langsung, penyebap tidak langsung dan penyebap lain.
Penyebap langsung terdiri dari :
1. Penyakit infeksi
Penyebap tidak langsung terdiri dari :
1. Kemiskinan keluarga
2. Tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua rendah
3. Sanitasi lingkungan yang buruk
4. Pelayanan kesehatan yang kurang memadai
Penyebap lain yang mempengaruhi kurangnya gizi yaitu :
1. Balita tidak mendapat makanan pendanping ASI (MP-ASI) pada umur 6 bulan atau lebih
2. Balita tidakmendapat ASI ekslusif (ASI saja) atau sudah mendapat makanan selain ASI sebelum umur 6 bulan
3. Balita tidakmendapat makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada umur 6 bulan atau lebih
4. MP-ASI kurang dan tidak bergizi
5. Setelah umur 6 bulan balita jarang disusui
6. Balita menderita sakit dalam waktu lama,seperti diare,campak, TBC, batukpilek
7. Kebersihan diri kurang dan lingkungan kotor.

D. Masalah kekurangan gizi di masyarakat

1. Marasmus
Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. Mempunyai Individu dengan marasmus mempunyai penampilan yang sangat kurus dengan tubuh yang kecil dan tidak terlihatnya lemak.(Dorland, 1998:649).

Penyebap marasmus yaitu : Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat atau karena kelainan metabolik dan malformasi kongenital.

Tanda gejala yang muncul pada orang yang mengalami marasmus yaitu : Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama beberaba waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput, serta wajah seperti orang tua. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, tekanan darah dan frekuensi napas menurun, kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Biasanya terjadi konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mucus dan sedikit.

2. Kwasiorkor
Kwashiorkor ialah suatu keadaan kekurangan gizi ( protein ) yang merupakan sindrom klinis yang diakibatkan defisiensi protein berat dan kalori yang tidak adekuat. Walaupun sebab utama penyakit ini adalah defisiensi protein, tetapi karena bahan makanan yang dimakan kurang mengandung nutrisi lainnya ditambah dengan konsumsi setempat yang berlainan, maka akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara.

Penyebap terjadinya Kwasiorkor ini adalah :
Selain oleh pengaruh negatif faktor sosial ekonomi, budaya yang berperan terhadap kejadian malnutrisi umumnya, keseimbangan nitrogen yang negatif dapat pula disebabkan oleh diare kronik, malabsorpsi protein, hilangnya protein melalui air kemih ( sindrom nefrotik ), infeksi menahun, luka bakar dan penyakit hati.

Tanda dan gejala yang muncul pada orang yang terkena Kwasiorkor adalah :
 Pertumbuhan terganggu, BB dan TB kurang dibandingkan dengan yang sehat.
 Pada sebagian penderita terdapat edema baik ringan dan berat.
 Gejala gastrointestinal seperti anoreksia dan diare
 Rambut mudah dicabut, tampak kusam kering, halus jarang dan berubah warna
 Hilangnay massa otot
 Dermatitis dan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi
 Kulit kering dengan menunjukan garis – garis kulit yang mendalam dan lebar, terjadi persisikan dan hiperpigmentasi
 Terjadi pembesaran hati, hati yang teraba umumya kenyal, permukaannya licin dan tajam.
 Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita.
 Kelainan kimia darah yang selalu ditemukan ialah kadar albumin serum yang rendah, disamping kadar globulin yang normal atau sedikit meninggi.

3. Kurang Energi Protein (KEP)
Kurang energy protein (KEP) disebabkan oleh kekurangan makan sumber energy secara umum dan kekurangan sumber protein. Pada anak-anak, KEP dapat menghambat pertumbuhan terhadap penyakit terutama penyakit infeksi dan mengakibatkan rendahnya tingkoduktivitas kerja dan derajat kecerdasan. Sedangkan pada orang dewasa KEP menurunkan kesehatan sehingga menyebabkan rentan terhadap penyakit. KEP diklafikasian dalam gizi buruk, gizi kurang dan gizi baik.

4. Anemia Defisiensi Besi
Adalah penyakit kurangnya haemoglobin dalam darah dimana haemoglobin ini berfungsi mengikat zat besi. Anemia defisiensi besi biasanya menyerang ibu hamil, ibu menyusui dan anak-anak usia sekolah. Anemia defisiensi besi disebapkan oleh kurangnya jumlah zat besi yang masuk dalam tubuh sehingga menyebapkan penderita merasa lemas dan letih.

5. Defisiensi Iodium
Adalah penyakit dimana penderita kekurangan Iodium yang berfungsi dalam proses metabolisme dan pertumbuhan. Masalah ini biasanya dialami oleh orang-orang yang hidup di tempat tinggi seperti penggunungan, bukit dan daerah-daerah gersang dimana Iodium sangat sulit untuk diperoleh. Ciri 0rang dengan masalah defisiensi Iodium biasanya pendek, lemas, dan daya konsentrasi yang rendah.

E. Cara mengatasi masalah gizi di masyarakat

1. Rumah Tangga
 Ibu membawa anak untuk ditimbang di posyandu secara teratur setiap bulan untuk mengetahui pertumbuhan berat badannya.
 Ibu memberikan hanya ASI kepada bayi usia 0-4 bulan
 Ibu tetap memberikan ASI kepada anak sampai usia 2 tahun.
 Ibu memberikan MP-ASI sesuai usia dan kondisi kesehatan anak sesuai anjuran pemberian makanan.
 Ibu segera memberitahukan pada petugas kesehatan/kader bila balita mengalami sakit atau

2. Posyandu

 Kader melakukan penimbangan balita setiap bulan di posyandu serta mencatat hasil penimbangan pada KMS.
 Bagi balita dengan berat badan tidak naik (“T”) diberikan penyuluhan gizi seimbang dan PMT Penyuluhan.
 Kader memberikan PMT-Pemulihan bagi balita dengan berat badan tidak naik 3 kali (“3T”) dan berat badan di bawah garis merah (BGM).
 Kader merujuk balita ke puskesmas bila ditemukan gizi buruk dan penyakit penyerta lain.

3. Pusat Pemulihan Gizi (PPG)

PPG merupakan suatu tempat pelayanan gizi kepada masyarakat yang ada di desa dan dapat dikembangkan dari posyandu. Pelayanan gizi di PPG difokuskan pada pemberian makanan tambahan pemulihan bagi balita KEP. Penanganan PPG dilakukan oleh kelompok orang tua balita (5-9 balita) yang dibantu oleh kader untuk menyelenggarakan PMT Pemulihan anak balita. Layanan yang dapat diberikan adalah:

 Balita KEP berat/gizi buruk yang tidak menderita penyakit penyerta lain dapat dilayani di PPG.
 Kader memberikan penyuluhan gizi/kesehatan serta melakukan demonstrasi cara menyiapkan makanan untuk anak KEP berat/gizi buruk.
 Kader menimbang berat badan anak setiap 2 minggu sekali untuk memantau perubahan berat badan dan mencatat keadaan kesehatannya.
 Apabila berat badan anak berada di pita warna kuning atau di bawah garis merah (BGM) pada KMS, kader memberikan PMT Pemulihan.
 Makanan tambahan diberikan dalam bentuk makanan jadi dan diberikan setiap hari..
 Apabila berat badan anak berada di pita warna kuning pada KMS teruskan pemberian PMT pemulihan sampai 90 hari.
 Apabila setelah 90 hari, berat badan anak belum berada di pita warna hijau pada KMS kader merujuk anak ke puskesmas untuk mencari kemungkinan penyebab lain.
 Apabila berat badan anak berada di pita warna hijau pada KMS, kader menganjurkan pada ibu untuk mengikuti pelayanan di posyandu setiap bulan dan tetap melaksanakan anjuran gizi dan kesehatan yang telah diberikan.

4. Puskesmas

 Puskesmas menerima rujukan KEP Berat/gizi buruk dari posyandu dalam wilayah kerjanya serta pasien pulang dari rawat inap di rumah sakit.
 Menyeleksi kasus dengan cara menimbang ulang dan dicek dengan Tabel BB/U Baku Median WHO-NCHS.
 Apabila ternyata berat badan anak berada di bawah garis merah (BGM) dianjurkan kembali ke PPG/posyandu untuk mendapatkan PMT pemulihan.
 Apabila anak dengan KEP berat/gizi buruk (BB < 60% Tabel BB/U Baku Median WHO-NCHS) tanpa disertai komplikasi, anak dapat dirawat jalan di puskesmas sampai berat badan nya mulai naik 0,5 Kg selama 2 minggu dan mendapat PMT-P dari PPG.
 Apabila setelah 2 minggu berat badannya tidak naik, lakukan pemeriksaan untuk evaluasi mengenai asupan makanan dan kemungkinan penyakit penyerta, rujuk ke rumah sakit untuk mencari penyebab lain.
 Anak KEP berat/gizi buruk dengan komplikasi serta ada tanda-tanda kegawatdaruratan segera dirujuk ke rumah sakit umum
 Tindakan yang dapat dilakukan di puskesmas pada anak KEP berat/gizi buruk tanpa komplikasi
 Memberikan penyuluhan gizi dan konseling diet KEP berat/ gizi buruk (dilakukan di pojok gizi buruk).
 Melakukan pemeriksaan fisik dan pengobatan minimal 1 kali per minggu.
 Melakukan evaluasi pertumbuhan berat badan balita gizi buruk setiap dua minggu sekali.
 Melakukan peragaan cara menyiapkan makanan untuk KEP berat/ gizi buruk.
 Melakukan pencatatan dan pelaporan tentang perkembangan berat badan dan kemajuan asupan makanan (www.gizi.net).

F. Sasaran utama penanganan masalah gizi di masyarakat

Sasaran utama penanggulangan masalah gizi di masyarakat adalah orang tua, kader, dan pemerintah setempat. Dimulai dari orang tua, dimana orang tua merupakan orang terdekat yang dapat memberikan pengaruh yang kuat bagi status nutrisi yang baik bagi anaknya. Kader juga adalah orang yang harus mengerti bagaimana menanggulangi masalah gizi di masyarakat karena mereka adalah orang yang berperan dalam memberikan pengajaran kepada masyarakat mengenai pentingnya gizi yang baik dan bagaimana menanggulangi masalah kekurangan gizi. Pemerintah setempat, seperti kepala RT/RW/kadus juga memiliki pernan penting dalam proses penanganan masalah gizi yang terjadi di masyarakat, karena mereka memfasilitasi dan menjadi contoh dalam menciptakan lingkungan/ kebiasaan yang dapat meningkatkan status gizi masyarakatnya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Gizi adalah zat-zat yang penting yang dibutukan tubuh untuk kelancaran proses metabolisme dan kelangsungan hidup sel-sel tubuh itu sendiri. Dimana ketika terjadi kekurangan gizi tubuh akan memiliki masalah yang berawal dari masalah gizi itu sendiri kemudian merembet kepada masalah-masalah lain, seperti sakit.

Masalah gizi yang terjadi di masyarakat memang cukup memprihatinkan, namun keadaan ini dapat dicegah dan diatasi dengan memberikan pengajaran mengenai pentingnya zat gizi bagi tubuh manusia. Pengajaran ini dapat dilakukan langsung kepada orang tua, ataupun melalui tokoh masyarakat dan kader yang terjun langsung di posyandu.

B. Saran
Masalah gizi yang terjadi dimasyarakat dapat di kurangi frekuensinya dengan membuat masyarakat sadar betapa pentingnya status gizi yang baik bagi diri mereka sendiri. Sehingga penyuluhan mengenai pentingnya zat gizi ini penting untuk sering dilakukan mengingat banyak masyarakat yang masih belum mengerti mengenai cara menciptakan status gizi yang baik dan cara mengatasai masalah status gizi buruk bila memang telah terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Tarwanto & Wartonah. 2011. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan Edisi 4. Jakarta : Salemba Medika

http://dirgaultra.wordpress.com/2012/12/23/makalah-gizi-buruk-2/ (diunduh pada tanggal 27 april 2013 pukul 20.15 wita)
http://www.sarjanaku.com/2013/03/pengertian-gizi-buruk-faktor-penyebab.html (diunduh pada tanggal 27 april 2013 pukul 20.25 wita)

Read Full Post »

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pneumonia merupakan infeksi saluran nafas bawah yang masih menjadi masalah kesehatan di Negara berkembang maupun negara maju. Menurut survey kesehatan rumah tangga tahun 2002, penyakit saluran nafas merupakan penyebab kematian nomor 2 di Indonesia. Data dari SEAMIC Health Statistic 2011 menunjukkan bahwa pneumonia merupakan penyebap kematian nomor 6 di Indonesia.
Ada berbagai faktor resiko yang meningkatkan kejadian beratnya penyakit dan kematian karena pneumonia. Yaitu status gizi (gizi kurang dan gizi buruk resiko besar), polusi udara dan tingginya prevalensi kolonisasi bakteri pathogen nasofaring.
Selain itu orang yang mudah terkena pneumonia yaitu peminum alcohol, perokok, diabetes mellitus, penderita gagal jantung, PPOK, Gangguan system kekebalan.
Untuk mencegah efek samping dan resiko lain yang timbul karena penggunaan obat maka harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien untuk lebih lengkapnya akan dibahas pada bab selanjutnya,
B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Pneumonia?
2. Apa penyebap Pneumonia?
3. Bagaimana proses terjadinya Pneumonia (patofisiologi)?
4. Apa tanda dan gejala Pneumonia?
5. Bagiamana penatalaksanaan medis Pneumonia?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang pada Pneumonia?
7. Apa saja komplikasi yang bisa terjadi pada Pneumonia?
8. Bagiamana asuhan keperawatan pada pasien Pneumonia?

C. Tujuan Umum
Memenuhi tugas kelompok di blok Respirasi III mengenai Infeksi Parenkim Paru “Pneumonia” yang diberikan oleh dosen pembimbing dan mengetahui konsep penyakit secara umum serta asuhan keperawatan yang tepat untuk penyakit ini.
D. Tujuan Khusus

1. Mengetahui pengertian Pneumonia
2. Mengetahui penyebap Pneumonia
3. Mengidentifikasi tanda dan gejala pneumonia
4. Mengidentifikasi proses terjadinya pneumonia
5. Mengetahui penatalakasanaan medis pneumonia
6. Mengetahui pemeriksaan penunjang pneumonia
7. Mengetahui komplikasi Pneumonia
8. Mengidentifikasi asuhan keperawatan pada pasien Pneumonia

E. Sistematika penyusunan
Penyusunan makalah ini terbagi atas empat (IV) bab yang tersusun secara sistematis meliputi :
1. BAB I PENDAHULUAN : meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan umum, tujuan khusus, sistematika penyusunan, dan ruang lingkup penyusunan
2. BAB II PEMBAHASAN : meliputi pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, penatalaksanaan medis, pemeriksasaan penunjang dan komplikasi Pneumonia
3. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN : meliputi pengkajian, diagnosa dan perencanaan perawatan Pneumonia
4. BAB IV PENUTUP : meliputi kesimpulan dan saran

F. Ruang Lingkup Penyusuanan
Penyusunan makalah ini menggunakan metode deskriptif yang menjelaskan konsep penyakit Pneumonia secara umum dan Asuhan Keperawatan yang tepat untuk pasien Penumonia yang diambil dari beberapa literatur buku dan internet.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Menurut Djojodibroto, D. (2009. Hal 163 ).Pneumonia adalah peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh mikroorganisme – bakteri , virus, jamur, parasit – namun pneumonia juga disebabkan oleh bahan kimia ataupun karna paparan fisik seperti suhu atau radiasi. Peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh penyebab selain mikroorganisme ( fisik, kimiawi, alergi ) sering disebut sebagai pneumonitis.
Menurut Muttaqin, A.(2008. Hal 98) Pneumonia adalah proses inflamasi parenkim paru yang terdapat konsolidasi dan terjadi pengisian rongga alveoli oleh eksudat yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing. Pneumonia juga mungkin disebabkan oleh terapi radiasi untuk kanker payudara atau paru, biasanya terjadi selama 6 minggu atau lebih setelah pengobatan selesai.
B. Etiologi
Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh bakteri, yang timbul secara primer atau sekunder setelah infeksi virus. Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah bakteri positif-gram, Streptococus pneumoniae yang menyebabkan pneumonia streptokokus. Bakteri Staphylococcus aureus dan streptokokus beta-hemolitikus grup A juga sering menyebabkan pneumonia, demikian juga Pseudomonas aeruginosa. Pneumonia lainnya disebabkan oleh virus, misalnya influenza. Pneumonia mikoplasma, suatu pneumonia yang relatif sering dijumpai, disebabkan oleh suatu mikroorganisme yang berdasarkan beberapoa aspeknya, berada di antara bakteri dan virus. Individu yang mengidap acquired immunodeficiency syndrome, (AIDS) sering mengalami pneumonia yang pada orang normal sangat jarang terjadi yaitu pneumocystis carinii. Individu yang terpajan ke aerosol dari air yang lama tergenang, misalnya dari unit pendingin ruangan (AC) atau alat pelembab yang kotor, dapat mengidap pneumonia Legionella. Individu yang mengalami aspirasi isi lambung karena muntah atau air akibat tenggelam dapat mengidap pneumonia asporasi.
Bagi individu tersebut, bahan yang teraspirasi itu sendiri yang biasanya menyebabkan pneumonia, bukan mikroorganisme, dengan mencetuskan suatu reaksi peradangan.
Etiologi:
• Bakteri : streptococus pneumoniae, staphylococus aureus
• Virus : Influenza, parainfluenza, adenovirus
• Jamur : Candidiasis, histoplasmosis, aspergifosis, coccidioido mycosis, cryptococosis, pneumocytis carini
• Aspirasi : Makanan, cairan, lambung
• Inhalasi : Racun atau bahan kimia, rokok, debu dan gas
Pada bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering adalah:
• virus sinsisial pernafasan.
• Adenovirus.
• virus parainfluenza dan
• virus influenza.

Faktor-faktor risiko terkena pneumonia, antara lain, Infeksi Saluran Nafas Atas (ISPA), usia lanjut, alkoholisme, rokok, kekurangan nutrisi, Umur dibawah 2 bulan, Jenis kelamin laki-laki , Gizi kurang, Berat badan lahir rendah, Tidak mendapat ASI memadai, Polusi udara, Kepadatan tempat tinggal, Imunisasi yang tidak memadai, defisiensi vitamin A dan penyakit kronik menahun.
Faktor-faktor yang meningkatkan resiko kematian akibat Pnemonia: Umur dibawah 2 bulan, tingkat sosio ekonomi rendah, gizi kurang, berat badan lahir rendah, tingkat pendidikan ibu rendah, tingkat pelayanan (jangkauan) pelayanan kesehatan rendah, kepadatan tempat tinggal, imunisasi yang tidak memadai, menderita penyakit kronis.
C. Patofisiologi
Pneumonia kimiawi adalah pneumonia yang terjadi setelah menghirup kerosin atau inhalasi gas yang mengiritasi. Pneumonia bakteri terjadi akibat inhalasi mikroba yang ada diudara, aspirasi organisme dari nasofaring ( penyebab pneumonia bacterialis yang paling sering ) atau penyebaran hematogen dari fokus infeksi yang jauh. Bakteri yang masuk ke paru melalui saluran pernapasan, masuk ke bronchiolus dan alveoli lalu menimbulkan reaksi peradangan hebat dan menghasilkan cairan edema yang kaya protein dalam alveoli dan jaringan intersititial. Bakteri pneumokokus dapat meluas melalui porus kohn dari alveoli ke alveoli di seluruh segmen / lobus. Timbulnya hepatisasi merah adalah akibat perembesan eritrosit dan beberapa leukosit dari kapiler paru. Alveoli dan septa menjadi penuh dengan cairan edema yang berisi eritrosit dan fibrin serta relatif sedikit leukosit sehingga kapiler alveoli menjadi melebar. Bakteri pneumokokus difagositosis oleh leukosit dan sewaktu resolusi berlangsung, makrofag masuk kedalam alveoli dan menelan leukosit bersama bakteri pneumokokus di dalamnya. Paru masuk dalam tahap hepatisasi abu-abu dan tampak bewarna abu-abu kekuningan. Secara perlahan-lahan sel darah merah yang mati dan eksudat-fibrin dibuang dari alveoli, terjadi resolusi sempurna, paru menjadi normal kembali tanpa kehilangan kemampuannya dalam melakukan pertukaran gas.

D. Manifestasi klinis
Secara khas diawali dengan awitan menggigil, demam yang timbul dengan cepat (39,5 ºC sampai 40,5 ºC), nyeri dada yang ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk, takipnea (25 – 45 kali/menit) disertai dengan pernafasan mendengur, pernafasan cuping hidung, nadi cepat dan bersambung, bibir dan kuku sianosis, sesak nafas.

E. Penatalaksanaan Medis
1. Kemoterapi
Pemberian kemoterapi harus berdasarkan pentunjuk penemuan kuman penyebab infeksi (hasil kultur sputum dan tes sensitivitas kuman terhadap antibodi). Bila penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral, sedangkan bila berat diberikan secara parenteral. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan, maka harus diingat kemungkinan penggunaan antibiotik tertentu perlu penyesuaian dosis (Harasawa, 1989).
2. Pengobatan Umum
1. Terapi Oksigen
2. Hidrasi
Bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat hidrasi dilakukan secara parenteral
3. Fisioterapi
Penderita perlu tirah baring dan posisi penderita perlu diubah-ubah untuk menghindari pneumonia hipografik, kelemahan dan dekubitus.

F. Pemeriksaan penunjang
1. Sinar x : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia mikoplasma sinar x dada mungkin bersih.
2. Analisa Gas Darah (Analisa Gas Darah) : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
3. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum, aspirasi transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab.
4. Pemeriksaan serologi : titer virus atu legionella, aglutinin dingin.
5. LED : meningkat
6. Pemeriksaan fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun, hipoksemia.
7. Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah
8. Bilirubin : mungkin meningkat
9. Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka :menyatakan intranuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik (CMV) (Doenges, 1999).

G. Komplikasi
Komplikasi yang dapat di timbulkan dari penyakit ini adalah :
a. Efusi pleura
b. Hipoksemia
c. Pneumonia kronik
d. Bronkaltasis
e. Atelektasis
f. Komplikasi sistemik ( meningitis).
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Anamnesa
– Identitas pasien
– Keluhan utama : keluhan utama yang sering menjadi alasan pasien dengan pneumonia untuk meminta pertolongan kesehatan adalah sesak napas, batuk, demam.
– Riwayat penyakit sekarang : pengkajian mengenai riwayat penyakit dilakukan untuk mendukung keluhan utama. Pada pasien pneuminia keluhan batuk biasanya timbul mendadak dan tidak berkurang setelah meminum obat batuk yang biasa ada di pasaran.
– Riwayat penyakit dahulu : pengkajian diarahkan pada waktu sebelumnya, apakah pasien pernah mengalami infeksi salurang pernapasan atas (ISPA) dengan gejala seperti luka tenggorok, kongesti nasal, bersin, dan demam ringan.
– Riwayat penyakit keluarga : pengkajian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada anggota keluarga yang lain yang pernah mengalami penyakit yang sama, karena penyakit ini biasanya menular.
– Pengkajian Psiko-sosial : dilakukan untuk mengetahui kebiasaan yang sering dilakukan pasien yang dapat mempengaruhi terjadinya penyakit ini, dan dapat pula mengetahui kondisi lingkungan tempat tinggal pasien yang memungkinkan timbul penyakit ini.
2. Pemeriksaan fisik
– Keadaan umum : keadaan umum pasien pneumonia biasanya lemah, karena adanya keluhan sesak napas yang diderita,
– Vital Sign : hasil vital sign pasien pneumonia biasanya akan menunjukkan peningkatan suhu tubuh karena terjadi infeksi, pernapasan akan meningkat karena sesak napas, dan jika tidak ada komplikasi sistemis, maka tekanan darah tidak akan mengalami masalah.
– Pemeriksaan B6 dan IPPA
a. Breathing
Inspeksi : gerakan pernapasan simetris dan biasanya ditemukan peningkatan frekuensi pernapasan cepat dan dangkat, adanya retraksi dinding dada, napas cuping hidung.
Palpasi : pada palpasi yang dilakukan biasanya didapatkan gerakan dada saat bernapas biasanya normal dan seimbang antara bagian kiri dan kanan. Tactil fremitus biasanya normal.
Perkusi : pasien pneumonia tanpa komplikasi biasnya didapatkan bunyi resonan atau sonor pada seluruh lapang paru. Bunyi redup pada pasien pneumonia biasanya didapatkan apabila bronkopneumonia menjadi satu tempat.
Auskultasi : pada pasien pneumonia didapatkan bunyi napas melemah dan bunyi napas tambahan ronchi basah pada sisi yang sakit.
b. Blood
Pada pasien pneumonia pengkajian yang didapat meliputi :
Inspeksi : didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum
Palpasi : denyut nadi perifer melemah
Perkusi : batas jantung tidak mengalami pergeseran
Auskultasi : tekanan darah biasanya normal, bunyi jantung tambahan biasnya tidak didapatkan
c. Brain
Klien dengan penumonia yang berat sering mengalami penurunan kesadaran, didapatkan adanya sianosis perifer apabila gangguan perfusi jaringan berat.
d. Bladder
Pengukuran volume output urine berhubungan dengan intake cairan, karena oliguria merupakan tanda awal terjadinya syok.
e. Bowel
Klien biasanya mengalami mual muntah, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan.
f. Bone
Kelemahan dan kelelahan fisik secara umum sering menyebapkan ketergantungan pasien terhadap bantuan orang lain dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
B. Diagnosa kepewataan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan sekresi mukus yang kental, hemoptisis, kelemahan, upaya batuk buruk, dan edema tracheal/faringeal.
2. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan penurunan jaringan efektif dan kerusak membran alveolar-kapiler
3. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme umum sekunder dari reaksi sistemik bakterimia/viremia.

C. Perencanaan keperawatan

1.Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan sekresi mukus yang kental, kelemahan, upaya batuk buruk, dan edema tracheal/faringeal
Tujuan : Dalam waktu 3 kali 24 jam setelah di berikan intervensi kebersihan jalan napas kembali efektif.
Kriteria evaluasi :
– Klien mampu melakukan batuk efektif.
– Pernapasan klien normal (16-20 kali/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu napas. Bunyi napas normal, Rh -/- dan pergerakan pernapasan normal.
Rencana Intervensi Rasional
Mandiri
Kaji fungsi pernapasan (bunyi napas, kecepatan, irama, kedalaman, dan penggunaan otot bantu napas). Penurunan bunyi napas menunjukan atelektasis, ronkhi menunjukkan akumulasi sekret dan ketidakefektifan pengeluaran sekresi yang selanjutnya dapat menimbulkan penggunaan otot bantu napas dan peningkatan kerja pernapasan.
Kaji kemampuan klien mengeluarkan skresi dan catat karakter dan volume sputum.
Pengeluaran sulit bila secret sangat kental (efek infeksi dan hidrasi yang tidak adekuat )
Berikan posisi semi/fowler tinggi dan bantu klien latihan napas dalam dan batuk yang efektif. Posisi fowler memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya bernapas. Ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan skret ke jalan napas besar untuk di keluarkan.
bersihkan secret dari mulut dan trachea,bila perlu lakukan penghisapan Mencegah obstruksi dan aspirasi. Pengisapan di lakukan bila klien tidak mampu mengeluarkan secret.
Kolaborasi
Pemberian obat sesuai indikasi Pengobatan antibiotok yang ideal berdasarkan tes uji resistensi bakteri terhadap jenis antibiotic sehingga lebih mudah mengobati pneumonia

2.Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan penurunan jaringan efektif paru dan kerusakan membrane alveolar-kapiler.
Tujuan : dalam waktu 2 kali 24 jam setelah di berikan gangguan pertukaran gas tidak terjadi
Kriteria evaluasi :
– Melaporkan tak adanya/penurunan dispnea
– Klien menunjukan tidak ada gejala distress pernapasan
– Menunjukan perbaikan venilasi dan oksigen jaringan adekuat dengan gas darah arteri dalam rentang normal.
Rencana Intervensi Rasional
Kaji dispnea, takipnea, bunyi napas, peningkatan upaya pernapasan, ekspansi thoraks, dan kelemahan. Pnemumonia mengakibatkan efek luas terhadap paru,bermula dari bagian kecil bronkho pneumonia sampai inflamasi difusi yg luas, nekrosis, efusi pleura, dan fibrosis yg luas.
Ajarkan dan mendukung pernapasan bibir selama ekspirasi khususnya untuk klien dengan fibrosis dan kerusakan parenkim paru Membuat tahan untuk melawan udara luar untuki mencegah kolaps /penyempitan jalan napas sehingga membantu mnyebarkan udara melalui paru dan mengurangi napas pendek
Tingkatkan tirah baring, batasi aktifitas, dan bantu kebutuhan perawatan diri sehari-hari sesuai keadaan klien. Menurunkan konsumsi oksigen selama periode , penurunan pernapasan dan dapat menurunkan beratnya gejala
Kolaborasi
Melakukan pemeriksaan AGD Penurunan kadar O2(PO2) dan atau saturasi,peninfkatan PCO2 menunjukan keburuhan untuk intervensi atau perubahan program terapi
3. Hipertemi berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme umum sekunder dari reaksi sistemik bakterimia/viremia.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan selama …x24 jam diharapkan suhu tubuh kembali normal
Kriteria hasil : suhu tubuh normal (36-370C), tidak terjadi kejang.

Rencana tindakan Rasional
1. Kaji saat timbulnya demam
2. Kaji vital sign setiap 3 jam atau lebih sering
3. Berikan kebutuhan cairan ekstra
4. Berikan kompres hangat
5. Berikan tindakan untuk meningkatkan rasa nyaman seperti mengelap punggung yan g berkeringat, berikan minum
6. Kolaborasai dalam pemberian antipiretik dan antibiotik 1. Mengidentifikasi pola demam
2. Acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien
3. Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan cairan tubuh meningkat, sehingga perlu untuk diimbangi dengan intake cairan yang banyak
4. Konduksi suhu membantu menurunkan suhu tubuh
5. Tindakan tersebut akan meningkatkan relaksasi dan pemberian minum yang banyak membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh
6. Antipiretik diperlukan untuk membantu menurunkan suhu tubuh kembali normal, antibiotik diperlukan untuk mengatasi infeksi sehingga tidak terjadi komplikasi yang lebih parah yang dapat meningkatkaan suhu tubuh menjadi lebih tinggi.


BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pneumonia adalah salah satu penyakit akibat infeksi parenkim paru yang dapat menyerang setiap usia. Pneumonia adalah suatu penyakit yang disebapkan oleh infeksi bakteri Streptococus pneumoniae dengan tanda gejala yang akan muncul adalah demam, batuk, sesak napas, dan terkadang disertai dengan nyeri dada.
Penatalaksanaan medis yang dilakukan pada pasien pneumonia dalah pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi oleh bakteri dan pemberian antipiretik untuk mengatasi suhu tubuh yang tinggi. Selain itu pemeriksaan penunjang juga perlu dilakukan untuk melihat daerah paru yang terkena infeksi, dan mengetahui apakah ada komplikasi lain yang dapat disebapkan oleh penyakit ini.
Asuhan keperawatan pasien pneumonia dilakukan berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien. Selain itu pemeriksaan fisik juga penting untuk dilakukan sebelum memutuskan tindakan apa yang akan diberikan, karena pemeriksaanf fisik akan menjadi dasar perencanaan tindakan yang akan diberikan.

B. Saran
Mengingat pneumonia adalah penyakit yang menyerang salah satu sistem vital tubuh yaitu sistem respirasi, maka penting untuk diberikan penanganan sesegera mungkin dna setepat mungkin untuk menghindari keadaan fatal pada pasien pneumonia. Pendidikan kesehatan juga penting untuk diberikan kepada pasien maupun keluarganya untuk menghindari komplikasi dan terulangnya kejadian yang sama.

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin,Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika
dr. Nugroho, Taufan. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah, dan Penyakit Dalam. Yogyakarta : Nuha Medika.
http://health.lintas.me/article/atasitbc.blogspot.com/penyakit-infeksi-pada-parenkim-paru (diunduh pada tanggal 27 April 2013 pukul 21.20 wita)

Read Full Post »